tugas spi 2

UTS SPI

1). Jelaskan pengertian,manfaat dan periodisasi Sejarah Pendidikan Islam?

Jawab:

A.Pengertian Sejarah Pendidikan Islam

Sebelum menjelaskan tenteng apa itu Sejarah Pendidikan Islam ada baiknya kita mengetahui pengertian dari sejarah dan pendidikan islam. Kata sejarah sendiri dalam bahasa arab disebut tarih, yang menurut bahasa berarti ketentuan masa. Sedang menurut istilah berarti ”keterangan yang terjadi di kalangannya pada masa yang telah lampau atau pada masa yang masih ada”. Kemudian yang dimaksud dengan ilmu tarih, ialah ”suatu pengetahuan yang gunanya untuk mengetahui keadaan-keadaan atau kejadian-kejadian yang telah lampau maupun yang sedang terjadi di kalangan umat”[1]

Dikutip dari buku sejarah peradaan Islam editor Siti Maryam, dkk. Pengertian sejarah secara etimologi berasal dari kata bahasa arab ”syajarah”, artinya ”pohon kehidupan”, makna sejarah paling sedikit memiliki dua konsep terpisah yaitu sejarah yang tersusun dari serangkaian peristiwa masa lampau, keseluruhan pengalaman manusia dan sejarah sebagai suatu cara yang dengannya fakta-fakta diseleksi, diubah-ubah, dijabarkan dan dianalisis.

Pendidikan Islam menurut DR. H. Maksum M yaitu segala proses pendidikan Islam yang bersumber dari Al-Quran, sunnah Nabi, perkataan dan perbuatan sahabat, ijtihad para ulama. Untuk membentuk kepriadian muslim yang tangguh dan mampu mengatasi masalah-masalah dikehidupannya dengan cara Islam, sehingga tercapai tujuan akhir yaitu bahagia dunia dan akhirat dengan Ridho Allah.[2]

Melihat dari pengertian di atas menurut saya pengertian sejarah pendidikan islam adalah serangkaian peristiwa masa lampau mengenai pendidikan islam dari masa ke masa dan, berlangsung sampai sekarang. Dimana peristiwa masa lalu tersebut sangat mempengaruhi akan perkembangan pendidikan khususnya pendidikan islam pada masa saat ini.

B. Manfaat mempelajari Sejarah Pendidikan Islam

Manfaat SPI antara lain adalah:

  • Mengetahui dan memahami pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam, sejak zaman lahirnya sampai sekarang.
  • Mengambil manfaat dari proses pendidikan Islam, guan memecahkan problematika pendidikan Islam pada masa kini.
  • Memiliki sikap positif terhadap perubahan-perubahan dan pembaharuan-pembaharuan sistem pendidikan Islam.[3]
  • Sebagai teladan, sebagaimana kita ketahui bahwa Rasulullah adalah teladan yang utama bagi kita sebagaimana bunyi QS. al-Araf:158 “Dan hendaklah kamu mengikuti dia(Rasulullah) supaya kamu mendapat petunjuk”. Seperti kita ketahui dalam SPI banyak juga dibahas mengenai sifat Rasulullah dan bagaimana ia mengajar. Untuk itu saya pikir SPI sangat bermanfaat dipelajari karena ketika kita mempelajari SPI maka otomatis kita juga akan mempelajari keteladanan Rasulullah dan mendapatkan teladan yang baik serta bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
  • Selain itu bagi para mahasiswa Tarbiyah atau Keguruan sangat penting mempelajati SPI karena dengan begitu kita dapat mengetahui kurikulum dan metode pengajaran dari jaman Rasulullah dan dapat kita gunakan sebagai perbandingan dan perbaikan bagi pengembangan kurikulum dan metode pengajaran pada masa sekarang.

C.Periodisasi Pendidikan Islam

periodisasi pendidikan islam terbagi menjadi 5 (lima) yaitu:

  1. Masa Pendidikan awal (masa Rasulullah)
  2. Perkembangan Pendidikan Islam (Khulafaur Rasyidin)
  3. Masa kejayaan pendidikan islam
  4. Kemajuan bukan hanya di bidang ilmu agama islam tetapi juga ilmu pengatahuan secara umum.Masa kemunduran pendidikan Islam 13M-18 M
  5. Mengalami stagnasi.Pembaharuan pendidikan islam
  • merupakan prototipe yang terus menerus dikembangkan umat islam
  • belum sistematis
  • diartikan pembudayaan ajaran islam yaitu memasukkan ajaran-ajaran islam dan menjadikannya sebagai sebagai unsur budaya bangsa arab dan menyatu di dalamnya.
  • Terbentuk sistem budaya islam.
  • Mengangkat dan menunjuk guru-guru di setiap daerah yang bertugas untuk mengajarkan alquran dan ajaran islam
  • Sahabat diperbolehkan meninggalkan madinah untuk mengajarkan ilmu
  • Pembudayaan ajaran agama islam ke dalam lingkungan budaya bangsa-bangsa secara luas.
  • Berkembang pesatnya kebudayaan islam secara mandiri
  • Ilmu pengetahuan dan kebudayaan islam berkembang secara pesat
  • Awalnya perpaduan unsur-unsur budaya islam dengan budaya bangsa romawi, persia dll.
  • Telah berlebihnya filsafat
  • Para pemimpin melalaikan ilmu pengetahuan
  • Banyak terjadi pemberontakan dean serangan dari luar
  • Awal di khalifah turki usmani, karena kekalahan kerajaan turki usmani dalam perang melawan eropa
  • Sultan ahmad III mengirimkan duta untuk mengamati keunggulan barat
  • Dipelopori oleh muhammad Ali
  • Madrasah didirikan sebagai respon terhadap dualisme sistem pendidikan islam tradisional dan pendidikan modern[4]

2). Coba saudara jelaskan tentang model pengajaran dan kurikulum yang diterapkan pada masa Nabi Muhammad SAW dan Khalifah Umar bin Khattab?

Jawab:

  1. Metode Pengajaran Rasulullah

Metode mengajar yang digunakan Rasulullah ada beberapa macam, mungkin hal ini dimaksudkan untuk mempermudah proses belajar mengajar yang Rasulullah lakukan. Berikut ini adalah beberapa macam metode mengajar yang digunakan Rasulullah, antara lain:

  • Metode Ceramah, yaitu dimana Rasulullah memberikan ceramah dan yang lain mendengarkan Rasulullah
  • Metode Dialog, misalnya dialog antara Rasulullah denagn Mu’adz ibn Jabal ketika Mu’adz diutus ke Yaman.
  • Metode Demonstrasi. Misalnya Rasulullah mendemonstrasikan gerakan shalat dan para sahabat menirunya.
  • Metode Eksperimen, contohnya bias dengan memainkan peran.
  • Metode Tanya Jawab, bisa dengan para sahabat bertanya dan Nabi Muhammad menjawabnya.[5]

Sedangkan untuk pendidikan akhlak Rasulullah menyampaikan dengan menceritakan tentang kisah umat terdahulu diikuti dengan penegasan, misalnya orang yang berbuat jahat akan mendapat hukuman dan orang yang berbuat baik akan mendapat balasan yang baik dari ALLAH SWT. Menurut saya metode dengan pemberian contoh dari kisah umat masa lalu ini digunakan Rasululah untuk langsung memberikan contoh nyata atas apa yang akan kita peroleh dari akhlak yang kita tunjukkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga diharapkan para sahabat dan masyarakat selalau menjaga akhlak mereka dan selalu berbuat baik agar mereka mendapat buah yang baik pula.

Sementara itu untuk metode pendidikan Islam, Nabi Muhammad juga menggunakan bermacam-macam metode,antara lain:

  • Melalui Teguran Langsung, contohnya ketika Rasulullah menegur Umar bin Salmah r.a (Yang pernah menjadi pembantu Rasulullah) untuk makan dengan tangan kanan.
  • Melalui Sindiran, cintoh Rasulullah pernah bersabda, “Apa keinginan kaum yang mengatakan begini begitu? Sesungguhnya aku shalat dan tidur, aku berpuasa dan berbuka dan aku pun menikahi wanita. Maka barang siapa yang tidak senang dengan sunnahku berarti dia bukan kaumku”.
  • Melalui Pemutusan dari Jamaah, misalnya yang terjadi dengan Ka’ab bin Malik ketika ia tidak ikut perang tabuk, Rasulullah melarang para sahabat yang lain untuk berbicara dengan Ka’ab selama 50 malam.
  • Melalui Pemukulan, Rasulullha pernah bersabda “Perintahkanlah anak-anakmu untukshalat pada saat mereka berumur tujuh tahun dan, pukullah mereka  jika mereka tidak shalat pada usia sepuluh tahun, serta pisahkanlah mereka dari tempat tidur.
  • Melalui Perbandingan Umat Masa Terdahulu.
  • Menggunakan Isyarat, missal merapatkan dua jari sebagai isyarat  perlunya menggalang persatuan.
  • Keteladanan, Rasulullah sendirilah yang menjadi teladannya dengan memberikan contok perilaku dan akhlak yang baik.[6]

Menurut saya Nabi Muhammad meggunakan berbagai metode untuk mempermudah proses mengajar, dimana kita ketahui tiap orang mempunyai sifat dan sikap yang berbeda sehingga Rasulullah menggunakan berbagai metode dengan maksud untuk mencari tahu mana metode yang paling efektif untuk dipakai, karena bisa saja seseorang tidak mengerti jika kita memakai metode sindiran tapi paham jika kita memakai metode teguran langsung. Sehingga mempermudah bagi pengajar dan peserta didik.

Sementara metode ketikamendidik anak dapt dilihat dari Hadist berikut ini.

Ana r.a. berkata, “Rasulullah SAW, adalah orang yang paling baik akhlaknya. Aku punya saudara yang dipanggil Abu Umair. Dia sudah dipisahkan dari persusuan. Jika datang beliau berkata,”wahai Abu Umair, apa yang dilakukan nughair (burung kecil)? . kadang-kadang Beliau bermain dengan dia, jika tiba waktu shalat sementara Beliau masih di rumah kami, Beliau meminta permadani yang ada di bawahnya, lalu permadani itu beliau sapu dan ditiup-tiup. Kemudian berdiri dan kami mengikutinya dari belakang”. (HR.Bukhari, muslim, Tirmidji dan, Abu Daud)

Dari Hadist di atas, menurut saya jika kita mengajarkan sesuatu pada anak kecil haruslah metode dan penalarannya disesuaikan dengan usia anak. Karena bisanya anak kecil lebih suka bermain, kita bisa mengajari dia sembari bermain seperti yang dilakukan Nabi Muhammad dan sekarang banyak dicontoh oleh TK modern saat ini. Dan karena anak kecil lebih banyak belajar dari apa yang ditangkap oleh panca inderanya, maka kita harus memberikan kepada mereka contoh langsung, misalnya dengan shalat di depan anak, diharapkan anak akan tahu bagaimana gerakan-gerakan shalat dan mengikutinya.

Dan untuk metode pengajaran anakramaja terkait hadist berikut.

Seperti diungkapkan Abu Umamah : “Sesungguhnya pernah ada seorang pemuda yang datang
kepada Nabi shallallahu `alaihi wa sallam mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, ijinkanlah aku berzina.’ Saat itu,
orang-orang yang ada di situ membentaknya seraya mengatakan, ‘Mah, mah!’ Sementara Rasulullah
shallallahu `alaihi wa sallam menyuruh pemuda itu untuk mendekat. ‘Mendekatlah,’ ajak beliau. Pemuda
itu pun mendekat. Kemudian Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bertanya, ‘Sukakah engkau kalau hal
ini terjadi pada ibumu?’ ‘Tidak, demi Allah, aku sebagai jaminanmu,’ jawabnya. ‘Demikian pula halnya
setiap manusia pasti tidak menyukai hal itu terjadi pada ibu-ibu mereka,’ jelas Rasulullah shallallahu
`alaihi wa sallam kepada pemuda itu. Kemudian beliau ajukan pertanyaan lagi, ‘Sukakah engkau jika hal itu
terjadi pada anak perempuanmu?’ Ia Jawab, ‘Tidak, demi Allah, Allah menjadikan diriku sebagai jaminanmu’
Beliau jelaskan lagi, ‘Demikian pula manusia tidak menyukai hal itu terjadi pada anak perempuan mereka.’
Kemudian beliau tanya, ‘Sukakah engkau jika hal itu terjadi pada saudara perempuanmu?’ Pemuda itu
menjawab, ‘Tidak, demi Allah, Allah menjadikan aku sebagai jaminanmu’ Lalu beliau bersabda, ‘Tidak pula
manusia menyukai hal itu terjadi pada saudara-saudara perempuan mereka.’ ‘Sukakah engkau jika hal itu
terjadi pada bibimu (ammah / saudara perempuan bapak)?’ Tanya beliau kembali. Dijawabnya, ‘Tidak,
demi Allah, Allah menjadikan aku sebagai jaminanmu’ Kemudian Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam
nyatakan, ‘Tidak pula manusia menyukai hal itu terjadi pada bibi mereka.’ Beliau berikan lagi pertanyaan,
‘Sukakah engkau jika hal itu terjadi pada bibimu (khalah / saudara perempuan ibu)?’ Jawab pemuda itu,
‘Tidak, demi Allah, Allah menjadikan aku sebagai jaminanmu.’ Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam
menuturkan, ‘Tidak pula manusia menyukai hal itu terjadi pada bibi (khalah) mereka.’ ” Selanjutnya Abu
Umamah menyatakan : “Maka Rasulullah meletakkan tangannya kepada pemuda itu seraya mengucapkan :

‘Ya Allah, ampunilah dosanya, bersihkanlah hatinya dan peliharalah kemaluannya.’ ” (Kisah ini dinukil dari
HR. Ahmad dan Thabrani, disahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah no. 370[7]

Setelah membaca Hadist tersebut, saya menyimpulkan untuk remaja yang nalat dan pikirannya sudah berkembang kita bisa langsung mengajarinya langsung pada pokok atau inti masalah. Tetapi kita juga harus melihat psikis dari emaja tersebut, dimana kita ketahui bahwa biasanya psikis remaja itu labilmaka kita harus mampu mengontrol dan membimbing mereka ke jalan yang benar. Dan mungkin metode yang paling tepat untuk anak ramaja adalah dengan metode diskusi, karena dengan metode diskusi diharapkan kita dapat menjelaskan suatu permasalahan sengan lebih detail dan pentransferan ilmu lebih bisa berjalan secara lancer.

  1. Kurikulum pada Masa Nabi Muhammad

Kurikulum pendidikan Islam pada periode Rasulullah baik di Mekkah dan Madinah adalah al-Qur’an. Materi pendidikan dibedakan jadi 2 yaitu pada fase Mekkah dan Fase Madinah

Mahmud Yunus mangatakan ada tiga macam inti sari materi yang diberikan di Mekkah, yaitu:

  • Pendidikan Keimanan, materi keimanan yang jadi pokok utama adalah iman kepada ALLAH SWT.,iman bahwa Muhammad adalah utusan ALLAH SWT.,iman diwahyukannya al-Qur’an sebagai petunjuk dan pengajar bagi seluruh umat, iman kepada hari akhir.
  • Pendidikan Ibadah, amal ibadah yang diperintahkan di Mekkah adalh shalat sebagai pernyataan mengabdi pada ALLAH SWT, ungkapan syukur,membersihkan jiwa dan menghubungkan hati kepada ALLAH.
  • Pendidikan Akhlak, Nabi Muhammad mengajurkan pendudukan Mekkah yang Isalm untuk berakhlak baik, seperti: adil, menepati janji, pemaaf, tawakal, bersyukur pada ALLAH SWT., tolong-menolong, dan sebagainya.

Hal lain yang tampak pada pendidikan Mekkah adalah pendidikan dilakukan di rumah Ar-Arqom, karena Arqom punya pengaruh besar di Mekkah.

Menurut Zukhairini, fase Mekkah dibagi dua bagian, yaitu:

  • Pendidikan Tauhid, materi ini lebih difokuskan untuk memurnikan ajaran Tauhid yang di bawa Nabi Ibrahim yang telah diselewengkan oleh masyarakat Jahiliah. Secara praktek pendidikan Tauhid diberikan melalui cara-cara yang bijaksana, menuntun  untuk membaca, memperhatikan dan memikirkan kekuasaan dan kebesaran ALLAH SWT. Kemudian Nabi Muhammad Mengajarkan cara mengaplikasikan pendidikan Tauhud dalam kehidupan sehari-hari.
  • Materi Pengajaran al-Qur’an, pada masa Nabi Muhammad terbagi dua pengumpulan al-Qur’an, yaitu pengumpulan dalam dada berupa hafalan dan penghayatan dan pengumpulan dalam dokumen atau catatan berpa penulisan pada kitab maupun berupa ukiran.

Fase Madinah, menurut Mahmud Yunus materi yang diajarkan sebagai berikut;

  • Pendidikan Keimanan, tentang keimana diperkuat dengan keterangan yang dibacakan oleh Nabi Muhammad dari ayat-ayat al-Qur’an, serta sabda Beliau sendiri.
  • Pendidikan Ibadat, dalam pendidikan ibadah juaga ditanbah dengan shalat Jumat sebagai pengganti shalat dzuhur, selain itu juga diperintahkan puasa pada bulan Rhamadan pada tahun 2H( 623M). Sementara ibadah haji diperintahkan pada tahun 6 H.
  • Pendidikan Akhlak, pendidikan akhlak di Madinah lebih diperinci lagi dari apa yang sudah diajarkan di Mekkah.
  • Pendidikan Kesehatan, pendidikan kesehatan dilihat dari dalam amal ibadah yang dilakukan sehari-hari, seperti:puasa, shalat, wudhu, mandi dan ditegaskan untuk makan dan minum secara tidak berlebebihan.
  • Pendidikan Kemasyarakatan, syariat yang berhubungan dengan masyarakat. Misalnya hal yang berhubungan dengan rumah tangga, hal yang berhubungan dengan pergaulan sesame manusia, hal yang berhubungan dengan qishas dan ta’zir.

Menurut Zukhairini, materi yang diajarkan di Madinah lebih kompleks disbanding dengan yang diberikan di Mekkah, seperti:

  • Pembentukan dan pembinaan masyarakat baru menuju social dan politik.
  • Materi pendidikan social dan kewarganegaraan yang terdiri dari pendidikan ukhuwah dan pendidikan kesejahteraan.
  • Materi pendidikan khusus untuk anak-anak, seperti: pendidikan tauhid, pendidikan shalat, pendidikan adab sopan santun dan pendidikan kepribadian.
  • Materi pendidikan pertahanan dan ketahanan dakwah Islam.

Disamping materi di atas terdapat juga materi baca tulis, selain itu Nabi Muhammad juga menyuruh belajar bahasa asing dan mengajarkan materi pendidikan ekonomi.[8]

  1. Metode Pengajaran pada Masa Umar bin Khattab

Berkaitan dengan masalah pendidikan, khalifah Umar bin Khattab merupakan seorang pendidik yang melakukan penyuluhan pendidikan di kota Madinah, beliau juga menerapkan pendidikan di masjid-masjid dan pasar-pasar serta mengangkat dan menunjuk guru-guru untuk tiap-tiap daerah yang ditaklukan itu, mereka bertugas mengajarkan isi al Qur’an dan ajaran Islam lainnya. Adapun metode yang mereka pakai adalah guru duduk di halaman masjid sedangkan murid melingkarinya.
Pelaksanaan pendidikan di masa Khalifah Umar bin Kattab lebih maju, sebab selama Umar memerintah Negara berada dalam keadaan stabil dan aman, ini disebabkan disamping telah ditetapkannya masjid sebagai pusat pendidikan juga telah terbentuknya pusat-pusat pendidikan Islam di berbagai kota dengan materi yang dikembangkan, baik dari segi ilmu bahasa, menulis, dan pokok ilmu-ilmu lainnya.
Pendidikan dikelola di bawah pengaturan gubernur yang berkuasa saat itu,serta diiringi kemajuan di berbagai bidang, seperti jawatan pos, kepolisian, baitulmal dan sebagainya. Adapun sumber gaji para pendidik waktu itu diambilkan dari daerah yang ditaklukan dan dari baitulmal.

  1. Kurikulum Umar bin Khattab

Materi pendidikan islam yang diajarkan pada masa khalifah Al-Rasyidin sebelum masa Umar bin Khattab, untuk pendidikan dasar:
a. Membaca dan menulis
b. Membaca dan menghafal Al-Qur’an
c. Pokok-pokok agama islam, seperti cara wudlu, shalat, shaum dan sebagainya
Ketika Umar bin Khattab diangkat menjadi khalifah, ia menginstruksikan kepada penduduk kota agar anak-anak diajari:
a. Berenang
b. Mengendarai unta
c. Memanah
d. Membaca dan menghapal syair-syair yang mudah dan peribahasa. [9]

menurut saya materi metode dan pengajaran yang diterapkan Umar bagus, dimana ia menjadikan Masjid sebagai pusat segala kegiatan, bukan hanya kegiatan belajar saja tapi juga kegiatan lain seperti perdagangan. Serta penambahan pusay-pusat pendidikan Islam menurut ssaya juga faktir penting dalam penegmbangan ilmu pengetahuan pada masa Umar. Dan materi tambahan yang diberikan Umar berupa Memanah, berenang, mengendarai Unta juga bagsu karena sangat relevan dengan pendidikan kesehatan yang diajarkan Nabi Muhammad pada fase Madinah.

 

3). Apa factor yang melatarbelakangi kemajuan perkembangan ilmu pengetahuan pada masa keemasan Islam(golden age)!

Jawab:

Yang melatarbelakangi kemajuan pendidikan islam pada masa golden age adalah:

  Terjadinya asimilasi antara bangsa Arab dengan bangsa-bangsa lain yang lebih dahulu mengalami perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan. Pada masa pemerintahan Bani Abbas, bangsa-bangsa non Arab banyak yang masuk Islam. Asimilasi berlangsung secara efektif dan bernilai guna. Bangsa-bangsa itu memberi saham tertentu dalam perkembangan ilmu pengetahuan dalam Islam. Pengaruh Persia, sebagaimana sudah disebutkan, sangat kuat di bidang pemerintahan. Disamping itu, bangsa Persia banyak berjasa dalam perkembangan ilmu, filsafat dan sastra. Pengaruh India terlihat dalam bidang kedokteran, ilmu matematika dan astronomi. Sedangkan pengaruh Yunani masuk melalui terjemahan-terjemahan dalam banyak bidang ilmu, terutama filsafat.

  Gerakan terjemahan yang berlangsung dalam tiga fase. Fase pertama, pada masa khalifah al-Manshur hingga Harun al-Rasyid. Pada fase ini yang banyak diterjemahkan adalah karya-karya dalam bidang astronomi dan manthiq. Fase kedua berlangsung mulai masa khalifah al-Ma’mun hingga tahun 300 H. Buku-buku yang banyak diterjemahkan adalah dalam bidang filsafat dan kedokteran. Fase ketiga berlangsung setelah tahun 300 H, terutama setelah adanya pembuatan kertas. Bidang-bidang ilmu yang diterjemahkan semakin meluas.[10]

Menurut saya asimilasi dengan bangsa Arab sangat membantu dalam perkembangan ilmu pengetahuan dimana dengan gerakan asimilasi ini bangsa Arab juga mentransfer ilmu kepada diansti Abbasiyah yang dikenal juga sebagai masa golden age, selain itu gerakan penerjemahaan yang dilakukan juga sangat membantu orang-orang yang tak  mengerti bahasa asing untuk tahu tentang pengetahuan dan ilmu di luar Arab sehinggan memudahkan mereka dalam memahami pengetahuan, bisa dibayangkan jika todak ada prosespenerjemahaan maka orang-orang yang ingin belajar pengetahuan dari negara lain yang mempunyai bahasa yang berbeda akan memakan waktu lama karena mereka harus menerjemahkan dahulu sebelum mengerti maksud dari pengetahuan itu.

4).Menurut saudara mengapa perkembangan ilmu pengetahuan pada masa bani Abbasiyah berkembang begitu pesat? Sebutkan faktor-faktor yang mendukung terjadinya perkembangan ilmu tersebut!

Jawab:

Keberahasilan umat Islam pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah dalam pengembangan ilmu pengetahuan sains dan peradaban Islam secara menyeluruh, tidak terlepas dari berbagai faktor yang mendukung. Di anataranya adalah kebijakan politik pemerintah Bani Abbasiyah terhadap masyarakat non Arab ( Mawali ), yang memiliki tradisi intelektual dan budaya riset yang sudah lama melingkupi kehidupan mereka. Meraka diberikan fasilitas berupa materi atau finansial dan tempat untuk terus melakukan berbagai kajian ilmu pengetahuan malalui bahan-bahan rujukan yang pernah ditulis atau dikaji oleh masyarakat sebelumnya. Kebijakan tersebut ternyata membawa dampak yang sangat positif bagi perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan sains yang membawa harum dinasyi ini.Dengan demikian, banyak bermunculan banyak ahli dalam bidang ilmu pengetahaun, seperti Filsafat, filosuf yang terkenal saat itu antara lain adalah Al Kindi ( 185-260 H/ 801-873 M ). Abu Nasr al-faraby, ( 258-339 H / 870-950 M ) dan lain-lain.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban islam juga terjadi pada bidang ilmu sejarah, ilmu bumi, astronomi dan sebagainya. Dianatar sejarawan muslim yang pertama yang terkenal yang hidup pada masa ini adalah Muhammad bin Ishaq ( w. 152 H / 768 M ).[11]

Menurut saya selain Karena penjelasan di atas, factor kemajuan dinasti Abbasiyah adalah karena gerakan penerjemahan yang berlangsung dalam tiga fase. Fase pertama, pada masa khalifah Al-Mansyur hingga Harun Al-Rasyid, dalam menerjemah karya-karya di bidang astronomi dan mantiq. Fase kedua, berlangsung mulai masa khalifah Al-Ma’mun hingga tahun 300 H. buku-buku yang banyak diterjemahkan adalah dalam bidang filsafat dan kedokteran. Fase ketiga berlangsung setelah tahun 300 H, terutama setelah adanya pembuatan kertas. Bidang-bidang ilmu yang diterjemahkan semakin meluas. Serta karena adanya asimilasi dengan penduduk Arab dan juga  pembangunan lembaga-lembaga pendidikan dan lahirnya berbagai tokoh pendidikan seperti Al-Fargani, Abu Ali al-Hasan ibn al-Haythami, al-Farabi, Ibn Sina, dan Ibn Rusyd.

5). Ada banyak pemikiran atau gagasan yang ditawarkan  para tokoh pendidikan, kaitannya dengan pengembangan pendidikan. Coba saudara jelaskan tentang gagasan atau pemikiran Al-Qabisi, al-Ghazali, dan ibn Miskawaih kaitannya dengan kurikulum, tujuan, waktu, metode pengajaran? Nilai positif apa yang dapat diambil dari kedua tokoh tersebut terkait dengan  pelaksanaan pendidikan nasional?

Jawab:

A.Konsep Pendidikan AL-Qabisi

1. Konsep Pendidikan Al-Qabisi

Pendidikan Anak-Anak
Menurut al- qabisi pendidikan anak-anak merupakan hal yang sangat penting dalam rangka menjaga keberlangsungan bangsa dan Negara dan ini merupakan upaya yg amat strategis. Dalam mengajar seorang guru harus memiliki keluasan ilmu dan berakhlak mulia dan tekun beribadah, yang berimplikasi dalam pengajarannya, inilah faktor keberhasilan seorang guru dalam mengajar. Seorang guru harusnya tidak hanya paham teori, akan tetapi lebih pada pelaksanaan teori tersebut atau prakteknya dalam kehidupan sehari-hari.

2.  Kurikulum

  • Kurikulum Ijbari
    Kurikulum ijbari adalah kurikulum(mata pelajaran) wajib bagi setiap anak didik. Isi kurikulumnya adalah mengenai kandungan ayat al-qur’an, seperti sembahyang dan doa doa. Dan penguasaan terhadap ilmu nahwu dan bahasa arab yang keduannya merupakan persyaratan mutlak untuk memantapkan bacaan al-qur’an. Kurikulum yang berkenaan dengan bahasa dan baca tulis al-Qur’an diberikan pada tingkat dasar, yaitu kuttab. Pendapat al-Qabisi tentang pentingnya pelajaran baca tulis dan pemahaman al-Qur’an dalam hubungannya dengan shalat itu menggambarkan kecenderungannya sebagai sebagai seorang ahli fiqh .Mengintegrasikan antara kewajiban mempelajari al-Qur’an dengan sembahyang dan berdoa berarti telah mengintegrasikan antara aspek berfikir merasa dan berbuat(beramal). Prinsip kurikul tersebut sesuai dengan pandangannya mengenai ilmu jiwa yang ditetapkan melalui prinsip tiga logis,(1) menumpahkan perhatian kepada pengajaran al-qur’an karena itu adalah untuk menambah ma’rifat kepada allah dan mendekatkan diri kepada allah. (2) Pentingnya ilmu nahwu untuk memahami kitab suci secara benar bagi anak. (3) Mengajaarkan bahasa arab sebagai alat untuk memahami makna ayat al-qur’an beserta huruf hijaiyahnya agar dapat menulis dan mengucapkannya dengan benar.
  • Kurikulum Ikhtiyari ( tidak wajib/pilihan)
    Kurikulum ini berisi ilmu hitung dan seluruh ilmu nahwu, bahasa arab syi’ir, kisah masyarakat arab, sejarah islam ilmu nahwu dan bahasa arab lengkap, dan keterampilan, ilmu berhitung(sesuai dengan izin orangtua) peserta didik.
    Al-Qabisi amat selektif dalam memasukkan pelajaran dalam kurikulum yang besifat ikhtiyari yaitu selalu dikaitkan dengan tujuan untuk mengembangkan akhlak mulia pada diri anak didik, menumbuhkan rasa cinta kepada agama, berpegang teguh pada ajaran islam serta berprilaku sesuai dengan nilai-nilai agama yang murni.
    demikian pentingnya tujuan beragama dalam kurikulum tersebut diatas tampak dipengaruhi oleh situasi masyarakat pada waktu itu yang taat beragama. Menurut Ali al-Jumbulati bahwa kondisi lingkungan hidup social budaya pada masa Al-Qabisi adalah bersifat keagamaan yang mantap.

3. Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan yang di kehendaki Al-Qabisi adalah agar pendidikan dan pengajaran dapat menumbuh-kembangkan pribadi anak sesuai dengan nilai-nilai Islam yang benar. Al-Qabisi juga menghendaki tujuan pendidikan yang mengarah agar anak memiliki keterampilan dan keahlian pragmatis yang dapat mendukung mencari nafkah. Ini diberikan setelah memperoleh pendidikan agama dan akhlak dengan harapan dalam mencari nafkah atau bekerja didasari rasa takut kepada Allah.

4.Waktu Pengajaran

Pemilihan waktu yang terbaik yaitu pada waktu pagi-pagi selama seminggu terus menerus dan baru istirahat sejak waktu setelah dhuhur hari kamis sampai hari jum’at. Kemudian belajar lagi pada hari sabtu pagi hingga minggu berikutnya.

5. Metode dan Teknik Belajar
Metode dan teknik belajar yang diterapkan al-Qabisi adalah menghafal, melakukan latihan dan demonstrasi langkah-langkah penting dalam menghafal adalah didasarkan pada penetapan waktu terbaik yang dapat mendorong meningkatkan kecerdasan akalnya. Waktu istirahat adalah waktu yang amat penting untuk menyegarkan fikiranya. Tahapan metode manghafal al-Alqabasi sesuai dengan hadits nabi, yaitu dimulai dengan menghafal kalimat, memahami isinya dan mengulangnya kembali. Hubungan metode menghafal dengan pendidikan akal adalah dalam menghafal sesuatu tentu kita akan mengingatnya dalam memory kita, kemudian hafalan tersebut sebagai dasar kita untuk berfikir dan melatih akal kita ketika ada pengetahuan baruk masuk ke otak kita.[12]

Menurut saya konsep pendidikan Al-Qabisi yang lebih berfokus pada anak sangat relevan dengan situasi saat ini, dimana pada saat ini banyak sekali bermunculan TK atau PAUD yang berfokus pada pendidikan anak, dan metode Al-Qabisi yang menggunakan hafalan lalu melakukan latihan dan demontrasi sangat bagus karena seseorang biasanya akan lebih menghafal sesuatu jika ada conoh atau demontrasi. Serta Al-Qabisi yang memasukan keterampilan dan keahlian pragmatis yang dapat mendukung mencari nafkah dalam tujuan pendidikannya sangat baik, sebagaimana kita ketahui bahwa rata-rata orang belajar selain untuk mendapatkan ilmu juga berharap agar ilmu tesebut bisa dipakai oleh mereka untuk bekerja.

B. Konsep Pendidikan al-Ghazali

1.Konsep Pendidikan Al-Ghazali

Al-Ghazali adalah orang yang banyak mencurahkan perhatiannya terhadap bidang pengajaran dan pendidikan. Oleh karena itu ia melihat bahwa ilmu itu sendiri adalah keutamaan dan melebihi segala-galanya. Oleh sebab itu menguasai ilmu baginya termasuk tujuan pendidikan dengan melihat nilai-nilai yang dikandungnya dan karena ilmu itu merupakan jalan yang akan mengantarkan anda kepada kebahagiaan di akhirat serta sebagai alat untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Oleh karena itu ia menyimpulkan bahwa pendidikan adalah proses memanusiakan manusia sejak masa kejadiannya sampi akhir hayatnya melalui berbagai ilmu pengetahuan yang disampaikan dalam bentuk pengajaran secara bertahap di mana proses pengajaran itu menjadi tanggung jawab orang tua dan masyarakat.Maka sistem pendidikan itu haruslah mempunyai filsafat yang mengarahkan kepada tujuan yang jelas.

2. Kurikulum

Al-Ghazali membagi ilmu pengetahuan menjadi tiga bagian, yaitu:
• Ilmu yang tercela, sedikit atau banyak. Ilmu tidak ada manfaatnya baik di dunia maupun di akhirat, seperti ilmu nujum, sihir, dan ilmu perdukunan. Bila ilmu ini dipelajari akan membawa mudharat bagi yang memilikinya maupun orang lain, dan akan meragukan Allah SWT.
• Ilmu yang terpuji, sedikit atau banyak, misalnya ilmu tauhid, dan ilmu agama. Bila ilmu ini dipelajari akan membawa orang kepadajiwa yang suci bersih dari kerendahan dan keburukan serta dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT.
• Ilmu yang terpuji pada taraf tertentu, dan tidak boleh didalami, karma dapat membawa kepada goncangan iman, seperti ilmu filsafat.
Dari ketiga kelompok ilmu tersebut, Al-Ghazalimembagi lagi menjadi dua bagian dilihatdari kepentingannya, yaitu:

ü  Ilmu yang fardhu (wajib) untuk diketahui oleh semua orang muslim, yaitu ilmu agama.

ü  Ilmu yang merupakan fardhu kifayah untuk dipelajari setiap muslim, ilmu dimanfaatkan untuk memudahkan urusan duniawi, seperti : ilmu hitung, kedokteran, teknik, dan ilmu pertanian dan industri.
Dalam menyusun kurikulum pelajaran, Al-Ghazali memberi perhatian khusus pada ilmu-ilmu agama dan etika sebagaimana yang dilakukannya terhadap ilmu-ilmu yang sangat menentukan bagi kehidupan masyarakat. Kurikilum menurut Al-Ghazali didasarkan pada dua kecenderungan sebagai berikut:
• Kecenderungan agama dan tasawuf. Kecenderungan ini membuat Al-ghazali menempatkan ilmu-ilmu agama di atas segalanya dan memandangya sebagai alat untuk menyucikan diri dan membersihkannya dari pengaruh kehidupan dunia.
• Kecenderungan pragmatis. Kecenderungan ini tampak dalam karya tulisnya. Al-ghazali beberapa kali mengulangi penilaian terhadap ilmu berdasarkan manfaatnyabagi manusia, baik kehidupan di dunia, maupun untuk kehidupan akhirat, ia menjelaskan bahwa ilmu yang tidak bermanfaat bagi manusia merupakan ilmu tang tak bernilai. Bagi al-Ghazali, setiap ilmu harus dilihat dari fungsi dan kegunaannya dalam bentuk amaliyah.

3. Tujuan Pendidikan

Seorang guru baru dapat merumuskan suatu tujuan kegiatan, jika ia memahami benar filsafat yang mendasarinya. Rumusan selanjutnya akan menentukan aspek kurikulum, metode, guru dan lainnya. Dari hasil studi terhadap pemikiran Al-Ghazali dapat diketahui dengan jelas bahwa tujuan akhir yang ingin dicapai melaliu pendidikan ada dua, pertama: tercapainya kesempurnaan insani yang bermuara pada pendekatan diri kepada Allah SWT, kedua, kesempurnaan insani yang bermuara pada kebahagiaan dunia dan akhirat. Karena itu, beliau bercita-cita mengajarkan manusia agar mereka sampai pada sasaran yang merupakan tujuan akhir dan maksud pendidikan itu. Tujuan itu tampak bernuansa religius dan moral, tanpa mengabaikan masalah duniawi.
Akan tetapi, disamping bercorak agamis yang merupakan cirri spesifik pendidikan islam, tampak pula cenderung pada sisi keruhanian. Kecenderungan tersebut sejalan dengan filsafat Al-ghazali yang bercorak tasawuf. Maka sasaran pendidikan adalah kesempurnaan insani dunia dan akhirat. Manusia akan sampai pada tingkat ini hanya dengan menguasai sifat keutamaam melalui jalur ilmu. Keutamaan itulsh yang akan membuat bahagia di dunia dan mendekatkan kepada Allah SWT sehingga bahagia di ahkirat kelak. Oleh karena itu, menguasai ilmu bagi beliautermasuk tujuan pendidikan, mengingat nilai yang dikandungnya serta kenikmatan yang diperoleh manusia padanya.

4.Waktu Pengajaran

Al-Ghazali Dilahirkan di kota Thusi tahun 450 H-505 H,Al-Ghazali ahli dibidang filsafat hanya saja  Saya tidak mendapatkan penjelesan mengenai kapan waktu pengajaran Al-Ghazali, tapi saya berpendapat waktu pengajaran yang digunakan oleh Al-Ghazali juga pada pagi hari sama seperti Al-Qabisi.

5. Metode Pengajaran

Perhatian Al-Ghazali akan pendidikan agama dan moral sejalan dengan kecenderungan pendidikannya secara umum, yaitu prinsip-prinsip yang berkaitan secara khusus dengan sifat yang harus dimiliki oleh seorang guru dalam melaksanakan tugasnya.
Tentang pentingnya keteladanan utama dari seorang guru, juga dikaitkan dengan pandangannya tentang pekerjaan mengajar. Menurutnya mengajar adalah pekerjaan yang paling mulia sekaligus yang paling agung .pendapatnya ini, ia kuatkan dengan beberapa ayat Al-quran dan hadits Nabi yang mengatakan status guru sejajar dengan tugas kenabian. Lebih lanjut Al-Ghazali mengatakan bahwa wujud termulia di muka bumi adalah manusia, dan bagian inti manusia yang termulia adalah hatinya. Guru bertugas menyempurnakan, menghias, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Bahkan, kaum muslimin pada zaman dahulu amat mementingkan menuntut ilmu yang langsung diterima dari mulut seorang guru. Mereka tidak suka menuntut ilmu dari buku-buku dan kitab-kitab saja, sebagian mereka berkata “ Diantara malapetaka yang besar yaitu berguru pada buku, maksudnya belajar dengan membaca buku tanpa guru”, dalam sebuah kitab dikatakan “Barang siapa yang tiada berguru, maka syetanlah imammya”.
Dalam masalah pendidikan, Al-Ghazali lebih cenderung berfaham empirisme, oleh karena itu, beliau sangat menekankan pengaruh pendidikan terhadap anak didik. Anak adalah amanat yang dipercayakan kepada orang tuanya, hatinya bersih, murni, laksana permata yang berharga, sederhana, dan bersih dari ukiran apapun. Ia dapat menerima tiap ukiran yang digoreskan kepadanya dan akan denderung ke arah yang kita kehendaki. Oleh karna itu, bila ia dibiasakan dengan sifat-sifat yang baik, maka akan berkembanglah sifat-sifat yang baik pula. Sesuai dengan hadits Rasulullah SAW :
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan bersih, kedua orang tuanyalah yang menyebabkan anak itu menjadi penganut Yahudi, Nasrani, dan Majusi.”( HR. Muslim)[13]

Menurut saya Al-Ghazali dalam pemikirannya yang sangat mengutamakan etika guru sangat baik, karena jika etika guru baik diharapkan murid akan segan dan patuh kepada guru. Selain itu pemikiran Al-Ghazali yang tidak hanya membuat kurikulum tentang agama saja tapi juga kurikulum lain di luar agama seperti ilmu hitung, kedokteran, teknik, dan ilmu pertanian dan industri, menurut saya juga baik, karena menyeimbangkan antara pendidikan akhirat dan duniawi sehingga tidak terkesan bahwa agama dan pemeluk Islam hanya mempelajari ilmu agama tapi juga mempelajari ilmu-ilmu luar agama yang mengisyaratkan bahwa islam itu agama yang universal dengan menerima apapun yang baik.
C. Konsep Pendidikan Ibn Miskawaih

1. Konsep Pendidikan Ibn Miskawaih

Pada dasarnya untuk memahami pemikiran Ibn Miskawaih tentunya tidak bisa dilepaskan dari konsepnya tentang manusia dan akhlaq. Berikut uraianya :

  • 1. Konsep Manusia
    Ibnu Maskawaih memandang bahwa manusia sebagai makhluk yang memiliki macam-macam daya. Yaitu :
    a. Daya nafsu (Sebagai daya terendah yang berasal dari unsur materi)
    b. Daya berani (Sebagai daya tengah yang juga berasal dari unsur materi )
    c. Daya berpikir (Sebagai daya tertinggi yang berasal dari ruh Tuhan)
    Dari beberapa pembagian tentang manusia tersebut, ibn Miskawaih mempunyai pandangan bahwa daya nafsu dan daya berani akan hacur bersama badan, akan tetapi daya berpikir tidak akan pernah mengalami kehancuran.
  • 2. Konsep Akhlaq
    Konsep akhlaq yang di tawarakan oleh Ibn Miskawaih lebih di dasarkan pada doktrik jalan tengah. Dengan pengertian bahwa jalan tengah adalah dengan keseimbangan, moderat, harmoni, utama, atau posisi tengah diantara dua ekstrem. Akan tetapi Ibn Miskawaih lebih menitik beratkan pada posisi tengah antara ekstrem kelebihan dan ekstreem kekurangan masing-msing jiwa manusia. Dari keterangan diatas dapat ditarik sebuah pemahaman bahwa ibn Miskawaih lebih memberi tekanan pada pribadi.
    Menurut Ibn Miskawaih, jiwa manusia di bagi menjadi menjadi tiga, yakni :
    a. al-bahimiyyah, yaitu menjaga diri dari perbuatan dosa dan maksiat
    b. al-ghadabiyah, yaitu kebernian yang diperhitungkan dengan masak untung ruginya.
    c. an-nathiqah. Yaitu kebijaksanaan.
    Ibn Miskawaih menegaskan bahwa setiap keutamaan memiliki dua sisi yang ekstreem. Yang tengah bersifat terpuji dan yang ekstrem bersifat tercela.
  • 3. Konsep Pendidikan
    3.1. Tujuan Pendidikan Akhlaq
    Adapun tujuan pendidikan akhlaq adalah terwujudya sikap batin yang mampu mendorong secara spontan untuk melahirkan perbuatan yang baik. Sehingga mencapai kesempurnaan dan memperoleh kebahagiaan sejati.
    3.2. Pendidik dan Anak Didik
    Keberadaan pendidik (Guru) merupakan instrumen yang sangat penting, begitupun keberadaan anak didik. Keduanya dapat menciptakan sinergitas untuk membangun pendidikan. Akan tetapi, Ibn Maskawaih juga menerangkan bahwa keberadaan orang tua merupakan bagian dari instrumen pendidikan yang penting pula.
    Terkait dengan pendidik, Ibn Maskawaih menempatkan posisi yang tinggi itu adalah guru yang berderjat mu’allim al-misal, al-hakim, atau al-mu’allim al-hikmat.
    3.3. Lingkungan Pendidikan
    Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, Ibn Maskawaih Berpendapat bahwa usaha untuk mencapai kebahagiaan tidak dapat dilakukan sendiri, tetapi harus bersama atas dasar saling menolong dan saling melengkapi. Maka, sebagai makhluk sosial, manusia memerlukan kondisi yang baik diuar dirinya, yakni lingkungan. Karena lingkungan yang baik akan turut serta dalam menentukan proses pendidikan.[14]

2. Kurikulum

Materi Pendidikan Akhlaq
Untuk mencapai tujuan yang di rumuskan oleh ibn maskawaih tentunya ada beberapa hal yang perlu dipelajari dan dipraktekkan. Sejalan dengan pemikiran tersebut, Ibn maskawaih menyebutkan tiga pokok yang dapat dipahami sebagai meteri pendidikan akhlaqnya, yakni :
a. Hal-hal yang wajib bagi kebutuhan manusia
b. Hal-hal yang wajib bagi jiwa
c. Hal-hal yang wajib bagi hubunganya dengan manusia.

3.Tujuan Pendidikan Menurut Ibn Miskawaih

Ibnu Miskawaih memusatkan perhatiannya kepada filsafat akhlak. Karena itu corak pemikiran pendidikannya bertendensi moral. Adapun tujuan pendidikan menurut Ibnu Miskawaih adalah:

ü  1. Kebaikan dan kebahagiaan
Manusia yang ingin diwujudkan oleh pendidikan adalah manusia yang baik, bahagia dan sempurna. Kebaikan, kebahagiaan dan kesempurnaan adalah suatu mata rantai yang tidak dapat dipisahkan. Seluruhnya adalah berkaitan dengan akhlak, etika dan moral. Untuk mencapai tingkatan tersebut, harus memiliki 4 kualitas, yaitu; kemampuan dan semangat yang kuat, ilmu pengetahuan yang esensial-substansial, malu kebodohan, dan tekun melakukan keutamaan dan konsisten mendalaminya.

ü  2. Tercapainya Kemuliaan Akhlak
Manusia yang paling mulia ialah yang paling besar kadar jiwa rasionalnya, dan terkendali. Oleh karena itu pembentukan individu yang berakhlak mulia terletak pada bagian yang menjadikan jiwa rasional ini unggul dan dapat menetralisir jiwa-jiwa lain.
Tujuan pendidikan yang diinginkan Ibnu Miskawaih adalah idealistik-spiritual, yang merumuskan manusia yang berkemanusiaan. Rumusan ini sejalan dengan fungsi kerasulan Muhammad yang digambarkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah.

ü  3. Sebagai Sarana Sosialisasi Individu
Manusia adalah makhluk sosial, maka pendidikan harus berfungsi sebagai proses sosialisasi bagi subjek didik. Kebijakan manusia sangat banyak jumlahnya, yang tidak mampu dicapai oleh individu, perlu bergabung dengan kelompok lain untuk tujuan tersebut. Gagasan ini merupakan jalan rintis lahirnya sosiologi pendidikan yang di kembangkan oleh para sosiolog modern

4.Waktu Pengajaran

Nama lengkap Ibnu Miskawaih adalah Abu Ali Ahmad bin Muhammad bin Yaqub ibn Miskawaih. Ia lahir di kota Ray (Iran) pada 320 H (932) M) dan wafat di Asfahan 9 Safar 421 H (16 Februari 1030 M). Ia belajar sejarah dan filsafat, serta pernah menjadi khazin (pustakawan) Ibn al-‘Abid dimana dia dapat menuntut ilmu dan memperoleh banyak hal positif berkat pergaulannya dengan kaum elit.Sama seperti waktu pengajaran tokoh pendidikan diatas yaitu Al-Ghazali, saya juga tidak menemukan waktu pengajaran Ibn Miskawaih. Tapi sama seperti Al-Ghazali, menurut saya waktu pengajaran Ibn Miskawaih juga terjadi pada pagi hari.

5. Metode Pendidikan Menurut Ibn Miskawaih
Ada beberapa metode pendidikan yang dikemukakan oleh Ibnu Miskawaih, di antaranya adalah :
1) Metode alami (thabi’i)
Manusia mempunyai metode alami yang dilakukan sesuai dengan proses alam. Cara ini berangkat dari pengamatan potensi manusia, di mana potensi yang muncul lebih dahulu, selanjutnya pendidikannya diupayakan sesuai dengan kebutuhan. Menurut Ibnu Miskawaih potensi yang pertama terbentuk bersifat umum yang juga ada pada hewan dan tumbuhan, kemudian baru potensi yang khusus manusia. Oleh karena itu, pendidikan harus dimulai dengan memperhatikan kebiasaan makan dan minum, karena dengannya akan terdidik jiwa syahwiyyah, kemudian baru yang berhubungan dengan jiwa ghadhabiyah yang berfungsi memunculkan cinta kasih, dan baru muncul jiwa nathiqah yang berfungsi memenuhi kecenderungan pengetahuan. Urutan ini yang disebut dengan metode alamiah.

2) Metode Bimbingan
Metode ini penting untuk mengarahkan subjek didik kepada tujuan pendidikan yang diharapkan yaitu mentaati syariat dan berbuat baik. Hal ini banyak ditemukan dalam Al-Qur’an, yang menunjukkan betapa pentingnya nasihat dalam interaksi pendidikan yang terjadi antar subjek-didik. Nasihat merupakan cara mendidik yang ampuh yang hanya bermodalkan kepiawaian bahasa dan olah kata.

3) Metode Ancaman, Hardikan, dan Hukuman
Berangkat dari metode yang sebelumnya, jika subjek-didik tidak melaksanakan nilai yang telah diajarkan, maka mereka diberi berbagai cara secara bertahap sehingga kembali kepada tatanan nilai yang ada. Seperti ancaman, kemudian baru hukuman, baik bersifat jasmani atau rohani.

4) Metode Pujian
Jika subjek didik melaksanakan syariat dan berperilaku baik, maka ia perlu dipuji dihadapannya. Hal ini agar mereka merasa bahwa perbuatan tersebut mendapat nilai tambah bagi dirinya. Jika pandangan ini menyebar, akan semakin gencar subjek-didik melaksanakan kebajikan. .[15]

Menurut saya Ibn Miskawaih yang mementingkan pendidikan karakter juga sangat baik karena jika kita mempunyai karakter yang bagus maka kita akan mudah dalam belajar dan mengajar dan dengan digunakannya berbagai metode oleh Ibn Miskawaih juga sangat membantu, seperti kita ketahui bahwa tiap orang mempunyai karakter yang berbeda dengan diterapkannya metode yang berbeda diharapkan jika ada seseorang tidak cocok dengan salah satu metode ia bisa diajarkan dengan metode lain sehingga kegiatan belajar mengajar bisa efektif dan efisien.

  1. Nilai Positif dari Pemikiran Para Tokoh Terkait dengan Pelaksanaan Pendidikan Nasional
  • Al-Qabisi

Menurut saya al-Qabisi yang berkata bahwa tanggung jawab belajar itu harus bertumpu pada orang tua dan guru sangat relevan dengan UNDANG-UNDANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL (UUSPN) NO. 20 TAHUN 2003 BAB IV bagian kedua pasal 7 yang berisi

(1)  Orang tua berhak berperan serta dalam memilih satuan pendidikan dan memperoleh informasi tentang perkembangan pendidikan anaknya.

(2)  Orang tua dari anak usia wajib belajar, berkewajiban memberikan pendidikan dasar kepada anaknya.

Dan sangat terlihat bahwa pemikiran Al-Qabisi diikuti oleh system pendidikan kita.

  • Al-Ghazali

Sementara itu dari apa yang saya dapat dari pemikiran Al-Ghazali adalah Al-Ghazali sangat memikirkan tentang kualifikasi seorang guru, dimana sekarang pemerintah Indonesia juga mulai membuat kualifikasi guru yang dapat dilihat dari sertifikasi guru di Indonesia. Tak hanya itulebih lanjut Al-Ghazali juga menyebutkan tetntang etika yang harus dimiliki oleh seorang guru dan murid yang sekarang juga mulai dipraktekkan oleh pemerintah dan tertian dalam kode etik guru.

  • Ibn Miskawaih

Sementara Ibn Miskawaih juga pernah mengembangkan pendidikan karakter, dimana pemerintah Indonesia sekarang ini juga mengembangkan pendidikan karakter di sekolah-sekolah guna meningkatkan sumber daya manusia Indonesia, pendidikan karakter di Indonesia sendiri biasanya dilakukan ketika siswa/i melakukan kegiatan ekstrakurikuler.


[1] Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta,PT RajaGrafindo Persada,1996), h.7

[2] Rian Hidayat El-Padary, sejarah pendidikan islam, http://motipasti.wordpress.com/2009/12/07/sejarah-pendidikan-islam/, (Rabu,20 April 2011,16.30 WIB)

[3] Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta,PT RajaGrafindo Persada,1996), h.13-14

[4] Laily Nur Arifa, sejarah pendidikan islam, file:///C:/DOCUME~1/ADMINI~1/LOCALS~1/Temp/sejarah%20pendidikan%20islam%20%C2%AB%20lely%27s%20directory.htm, (Kamis, 21 April 2011,13.18 WIB)

[5] Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan Era Rasulullah sampai Indonesia, (Jakarta, Kencan Prenada media group, 2007), h.16

[6] Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan Era Rasulullah sampai Indonesia, (Jakarta, Kencan Prenada media group, 2007), h.17-18

[7] Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan Era Rasulullah sampai Indonesia, (Jakarta, Kencan Prenada media group, 2007), h.20-21

[8] Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan Era Rasulullah sampai Indonesia, (Jakarta, Kencan Prenada media group, 2007), h.12-15

[9] HABIB al-Banjar, sejarah pendidikan Islam dari nabi Muhammad sampai sekarang, http://ilusuvislam.blogspot.com/2010/01/sejarah-pendidikan-islam-dari-nabi.html, (Rabu, 20 April 2011, 16.37 WIB)

[10] Kcpkiainws, MASA KEEMASAN ISLAM BANI ABBASYIAH, http://kcpkiainws.wordpress.com/2009/06/04/masa-keemasan-islam-bani-abbasyiah/, (Rabu, 20 April 2011, 16.53)

[11] Spupe, Dinasti Abbasiyah, file:///C:/DOCUME~1/ADMINI~1/LOCALS~1/Temp/Dinasti%20Abbasiyah%20%C2%AB%20%D8%A5%D9%86%D9%85%D8%A7%20%D8%A7%D9%84%D8%A5%D8%B9%D9%85%D8%A7%D9%84%20%D8%A8%D8%A7%D9%84%D9%86%D9%8A%D9%80%D9%80%D9%80%D9%80%D9%80%D9%80%D9%80%D9%91%D8%A9.htm, (Kamis, 21 April 2011, 11.32 WIB).

[12] H.Abuddin Naba, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam, (Jakarta, PT Raya Grafindo, 2001),h.27-36

[13] H.Abuddin Naba, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam, (Jakarta, PT Raya Grafindo, 2001),h.86-95

[14] H.Abuddin Naba, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam, (Jakarta, PT Raya Grafindo, 2001),h.6-20

[15] Zuddin, Pemikiran Pendidikan Ibn Miskawaih, http://zuddin-84.blogspot.com/2008/12/pemikiran-pendidikan-ibnu-miskawaih.html, (Sabtu, 23 April 2011, 11 32 WIB)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s