Tugas SPI (Resume buku) Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia karangan Drs. Hasbullah

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Tahun Ajaran 2010-2011

BAB 1
Pendahuluan

A. Latar Belakang Sejarah
Tidak dapat disangkal bahwa islam merupakan komponen penting yang turut membentuk dan mewarnai corak kehidupan masyarakat Indonesia.
Keberhasilan Islam menembus dan mempengaruhi kehidupan masyarakat Indonesia serta menjadikan dirinya sebagai agama utama bangsa ini merupakan prestasi luar biasa. Hal ini terutama bila dilihat dari segi letak geografis, dimana jarak Indonesia dengan egara asal Islam, jazirah Arab cukup jauh. Apalagi bila dilihat sejak dimulainya proses penyebaran Islam itu sendiri di kepulauan nusantara ini, belum terdapat suatu metode atau organisasi memperkenalkan Islam kepada masyarakat luas.
Berbicara tentang pendidikan Islam di Indonesia, sangatlah erat hubungannya dengan kedatangan Islam itu sendiri ke Indonesia. Dalam konteks ini, Mahmud Yunus mengatakan, bahwa sejarah pendidikan Islam sama tuanya dengan masuknya Islam ke Indonesia. Hal ini disebabkan karena pemeluk agama Islam yang kala itu masih tergolong baru, maka sudah pasti akan mempelajari dan memahami tentang ajaran-ajaran Islam. Meski dalam pengertian sederhana, namun proses pembelajaran waktu itu telah terjadi. Dari sinilah mulai timbul pendidikan Islam, dimana pada mulanya mereka belajar di rumah-rumah, langgar/surau, masjid dan kemudian berkembang menjadi pondok pesantren. Setelah itu baru timbul egara madrasah yang teratur sebagaimana yang dikenal sekarang ini.

B. Sekitar Masuknya Islam Ke Indonesia
Akselerasi dan dinamika penyebaran islam tersebut disebabkan oleh factor-faktor khusus yang dimiliki oleh islam pada periode permulaannya. Dimana kita mengetahui ajaran islam baik akidah, syariah, dan akhlaknya mudah dimengerti oleh semua lapisan masyarakat dan dapat diamalkan secara luwes dan ringan.
Berikut ini beberapa pendapat tentang awalnya islam masuk ke Indonesia
• Prof. Syed Naquib al-Attas
Catatan yang paling tua mengenai kemungkinan sudah bermukimnya orang-orang muslim di kepulauan Indonesia adalah bersumber laporan Cina tentang permukiman Arab di Sumatera utara yang dikepalai oleh seorang Arab pada tahun 55 atau 672 M.
• Gerini
Seorang sejarawan dalam Further India and Indo Malay Archipelago, yang didukung penulis Harry W. Hazzard dalam “Atlas of Islamic History” menyatakan bahwa orang Islam yang pertama mengunjungi Indonesia amat boleh jadi adalah saudagar Arab dalam abad ke-7 M yang singgah di Sumatera ketika mengadakan perjalanan menuju Cina.
• Thomas W. Arnold dalam bukunya The Preaching of Islam menyatakan bahwa aabd ke-7 M dipantai barat Pulau Sumatera sudah didapati suatu kelompok perkampungan orang-orang Arab
Seminar masuknya Islam di Indonesia yang diselenggarakan di Medan pada tahun 1963 menyimpulkan sebagai berikut :
1) Menurut sumber bukti yang terbaru, Islam pertama kali di bawa oleh pedagang dan muballiq dari negeri Arab pada abad 7 M
2) Daerah yang pertama dimasuki adalah pantai barat Pulau Sumatera yaitu daerah Baros, tempat kelahiran ulama besar bernama Hamzah Fansyuri.
3) Dalam proses pengislaman selanjutnya, orang-orang Islam bangsa Indonesia ikut aktif mengambil bagian yang berperan, dan proses itu berjalan secara damai

BAB 2
Studi Sejarah Pendidikan Islam
A. Pengertian
Perkataan sejarah disebut tarikh atau sirah yang berarti ketentuan masa atau waktu, dan ‘ilm tarikh yang berarti ilmu yang mengandung atau membahas penyebutan peristiwa atau kejadian, masa atau terjadinya peristiwa, dan sebab-sebab terjadinya peristiwa tersebut. Di dalam bahasa Inggris sejarah disebut history yang berarti uraian secara tertib tentang kejadian-kejadian di masa lampau (orderly description of past event). Sedangkan sejarah sebagai cabang ilmu pengetahuan mengungkapkan peristiwa masa silam, baik peristiwa politik, egara, maupun ekonomi pada suatu bangsa atau egara, benua atau dunia.

B. Obyek dan Metode Sejarah Pendidikan Islam
• Objek
Obyek kajian sejarah pendidikan islam adalah fakta-fakta pendidikan islam berupa informasi tentang pertumbuhan dan perkembangan pendidikan islam baik formal, informal dan non formal. Dengan demikian akan diproleh apa yang disebut dengan sejarah serba objek hal ini sejalan dengan peranan agama islam sebagai agama dakwah penyeru kebaikan, pencegah kemungkaran, menuju kehidupan yang sejahtera lahir bathin secara material dan spiritual. Namun sebagai cabang dari ilmu pengetahuan, objek sejarah pendidikan islam umumnya tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan dalam objek-objek sejarah pendidikan, seperti mengenai sifat-sifat yang dimilikinya. Dengan kata lain, bersifat menjadi sejarah serba subjek
• Metode
Mengenai metode sejarah pendidikan islam, walaupun terdapat hal-hal yang sifatnya khusus, berlaku kaidah-kaidah yang ada dalam penulisan sejarah. Kebiasaan dari penelitian dan penulisan sejarah meliputi suatu perpaduan khusus keterampilan intelektual. Sejarahwan harus menguasai alat-alat analisis untuk menilai kebenaran materi-materi sebenarnya, dan perpaduan untuk mengumpulkan dan menafsirkan materi-materi tersebut kedalam kisah yang penuh makna, sebagai seorang ahli, sejarahwan harus mempunyai sesuatu kerangka berpikir kritis baik dalam mengkaji materi maupun dalam menggunakan sumber-sumbernya.

Untuk memahami sejarah pendidikan islam diperlukan suatu pendekatan atau metode yang bisa ditempuh adalah keterpaduan antara metode deskriptif, metode komparatif dan metode analisis sistensis.
• Dengan metode deskriptif, ajaran-ajaran islam yang dibawa oleh Rosulullah saw, yang termaktub dalam Al-Qur’an dijelaskan oleh As-sunnah , khususnya yang langsung berkaitan dengan pendidikan islam dapat dilukiskan dan dijelaskan sebagaimana adanya. Pada saatnya dengan cara ini maka yang terkandung dalam ajaran islam dapat dipahami.
• Metode komparatif mencoba membandingkan antara tujuan ajaran islam tentang pendidikan dan tuntunan fakta-fakta pendidikan yang hidup dan berkembang pada masa dan tempat tertentu. Dengan metode ini dapat diketahui persamaan dan perbedaan yang ada pada dua hal tersebut sehingga dapat diajukan pemecahan yang mungkin keduanya apabila terjadi kesenjangan.
• Metode analisis sinsesis digunakan untuk memberikan analisis terhadap istilah-istilah atau pengertian-pengertian yang diberikan ajaran islam secara kritis, sehingga menunjukkan kelebihan dan kekhasan pendidikan islam. Pada saatnya dengan metode sintesis dapat diperoleh kesimpulan-kesimpulan yang akurat dan cermat dari pembahasan sejarah pendidikan islam. Metode ini dapat pula didayagunakan untuk kepentingan proses pewarisan dan pengembangan budaya umat manusia yang islam
Dalam penggalian dan penulisan sejarah pendidikan islam ada beberapa metode yang dapat dipakai antaranya:
1. Metode Lisan dengan metode ini pelacakan suatu obyek sejarah dengan menggunakan interview.
2. Metode Observasi dalam hal ini obyek sejarah diamati secara langsung.
3. Metode Documenter dimana dengan metode ini berusaha mempelajari secara cermat dan mendalam segala catatan atau dokumen tertulis

C. Ilmu-ilmu Lain Yang Erat Kaitannya Dengan Sejarah Pendidikan Islam.
sejarah pendidikan islam bukanlah ilmu berdiri sendiri namun merupakan bagian dari sejarah pendidikan secara umum. Sejarah pendidikan merupakan uraian sistematis dari segala sesuatu yang telah dipikirkan dan dikerjakan dalam lapangan pendidikan pada waktu yang telah lampau. Sejarah pendidikan menguraikan perkembangan pendidikan dari dahulu hingga sekarang. Oleh karena itu, sejarah pendidikan sangat erat kaitannya dengan beberapa ilmu antara lain:
• Sosiologi
Interaksi yang terjadi baik antara individu maupun antara golongan, dimana dalam hal ini menimbulkan suatu dinamika. Dinamika dan perubahan tersebut bermuara pada terjadinya mobilitas sosial semua itu berpengaruh pada sistem pendidikan islam. Serta kebijaksanaan pendidikan islam yang dijalankan pada suatu masa.
• Ilmu Sejarah
Membahas tentang perkembangan peristiwa-peristiwa atau kejadian –kejadian penting di masa lampau dan juga dibahas segala ikhwal “orang-orang besar” dalam struktur kekuasaan dalam politik karena umumnya orang-orang yang besar cukup dominan pengaruhnya dalam menetukan sistem, materi, tujuan pendidikan, yang berlaku pada masa itu.
• Sejarah Kebudayaan
Dalam hubungan ini pendidikan berarti pemindahan isi kebudayaan untuk menyempurnakan segala dan kecakapan anak didik guna menghadapi persoalan-persoalan dan harapan-harapan kebudayaannya, pendidikan islam adalah usaha mewariskan nilai-nilai budaya dari suatu generasi ke generasi selanjutnya. Oleh karenanya mempelajari sejarah kebudayaan dalam rangka memahami sejarah islam adalah sangat penting.

D. Manfaat dan Urgensi Mempelajari Sejarah Pendidikan Islam
Secara umum sejarah mengandung kegunaan yang sangat besar bagi kehidupan umat manusia. Oleh sebab itu kegunaan sejarah pendidikan Islam meliputi dua aspek, yaitu kegunaan yang bersifat umum dan kegunaan yang bersifat akademis.
1. Bersifat Umum, sejarah pendidikan Islam mempunyai kegunaan sebagai keteladanan. Seperti tersirat dalam firman Allah.(33:21),(3:31),(7:158).
2. Bersifat Akademis, kegunaan sejarah pendidikan Islam selain memberikan pembendaharaan perkembangan ilmu pengetahuan (teori dan praktek), juga untuk menumbuhkan perspektif baru dalam rangka mencari relevansi pendidikan Islam terhadap segala bentuk perubahan dan perkembangan ilmu teknologi. Dalam syllabus Fakultas Tarbiyah IAIN, kegunaan studi sejarah pendidikan Islam diharapkan dapat:
1. Mengetahui dan memahami pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam, sejak zaman lahirnya sampai sekarang.
2. Mengambil manfaat dari proses pendidikan Islam, guan memecahkan problematika pendidikan Islam pada masa kini.
3. Memiliki sikap positif terhadap perubahan-perubahan dan pembaharuan-pembaharuan sistem pendidikan Islam.
Selain dari hal-hal diatas, kegunaan sejarah pendidikan Islam juga sangat penting bagi para pelajar, agama dan para pemimpin. Karena dengan mempelajari sejarah pendidikan Islam kita dapat mengetahui, sebab-sebab kemajuan Islam yang disebabkan dalam hal mengajar dan mendidik dan sebab-sebab kemundurun Islam, dikarenakan salah dalam mendidik dan mengajar.

E. Periodisasi Sejarah Pendidikan Islam
Secara garis besar Dr. Harun Nasution membagi sejarah Islam ke dalam 3 periode, yaitu periode klasik, pertengahan dan modern. Kemudian perinciannya dapat dibagi menjadi lima masa, yaitu:
1. Masa hidupnya Nabi Muhammad SAW (571-632 M);
2. Masa khalifah yang empat (632-661 M);
3. Masa kekuasaan Umaiyah di Damsyik (661-750 M);
4. Masa kekuasaan Abbasiyah di Bagdad (750-1250 M );
5. Masa dari jatuhnya kekuasaan khalifah di Bagdad tahun 1250 M dampai sekarang.
Selanjutnya pembahasan tentang pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam ini, akan di bagi kedalam 5 periode, yaitu:
1. Periode pembinaan pendidikan Islam, yang berlangsung pada Zaman Nabi Muhammad.
2. Periode pertumbuhan pendidikan Islam.
3. Periode kejayaan (puncak perkembangan) pendidikan Islam.
4. Periode kemunduran pendidikan Islam.
5. Periode pembaharuan pendidikan Islam.
Pembagian periodesasi dalam pendidikan Islam tersebut , dimaksudkan hanyalah sebagai usaha untuk memudahkan urutan pembahasan saja, karena pada hakikatnya suatu peristiwa sejarah selalu berkaitan dengan peristiwa-peristiwa lainnya, baik yang sebelum, yang semasa maupun yang sesudahnya.

BAB 3
Pertumbuhan dan Berkembangnya Islam Masa Permulaan

A. Kondisi Masuk dan Berkembanganya Islam di Indonesia
Sejarah membuktikan bahwa Islam telah masuk ke Indonesia pada abad ke-7 M/I H. Tetapi baru meluas pada abad ke-13 M. Perluasan Islam ditandai berdirinya kerajaan Islam tertua di Indonesia, seperti Perlak dan Samudra Pasai di Aceh pada tahun 1292 dan tahun 1297. Melalui pusat-pusat perdagangan di daerah pantai Sumatera Utara dan melalui urat nadi perdagangan di Malaka, agama Islam kemudian menyebar ke pulau Jawa dan seterusnya ke Indonesia bagian Timur. Islam masuk ke Indonesia dan peralihan dari agama Hindu ke Islam, secara umum nerlangsung dengan damai.Menurut Fachry Ali dan Bachtiar Effendy, mengatakan bahwa ada tiga faktor utama yang ikut mempercepat proses penyebaran Islam di Indonesia, yaitu:
1) Karena ajaran Islam melaksanakan prinsip ketauhidan dalam sistem ketuhanannya, suatu prinsip yang secara tegas menekankan ajaran untuk mempercayai Tuhan Yang Maha Esa.
2) Karena daya lentur (Fleksibelitas) ajaran Islam, dalam pengertian bahwa ia merupakan kondifikasi nilai-nilai yang universal.
3) Pada gilirannya nanti, Islam oleh masyarakat Indonesia di anggap sebagai suatu institusi yang amat dominan untuk menghadapi dan melawan ekspansi pengaruh barat yang melalui kekuasaan-kekuasaan bangsa Portugis kemudian Belanda, mengobarkan penjajahan dan menyebarkankan agama Kristen.
Antara dominasi Kolonialisme dan penyebaran agama Kristen berjalan seiring, di mana penyebaran agama Kristen tidak semata-mata di maksudkan untuk kepentingan keagamaan, tetapi lebih jauh lagi di maksudkan sebagai alat, untuk mempertahankan status quo, yakni Kolonialisme.
Menurut Prof. Mahmud Yunus, Hasbullah (1995: 19), mengatakan bahwa ada yang lebih terinci tentang faktor-faktor mengapa agama Islam dapat tersebar dengan cepat diseluruh Indonesia pada masa permulaan, yaitu:
1) Agama Islam tidak sempit dan tidak berat melakukan aturan-aturannya, bahkan mudah di turut oleh segala golongan umat manusia, bahkan untuk masuk Islam cukup dengan mengucapkan dua kalimat syahadat saja.
2) Sedikit tugas dan kewajiban Islam.
3) Penyiaran Islam itu dilakukan dengan cara berangsur-angsur demi sedikit.
4) Penyiaran Islam itu di lakukan dengan cara kebijaksanaan dan cara sebaik-baiknya.
5) Penyiaran Islam itu di lakukan dengan perkataan yang mudah di pahami umum, dapat dimengerti oleh golongan bawah sampai ke galongan atas, yang sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW yang maksudnya: Berbicaralah kamu dengan manusia menurut kadar akal mereka.
Itulah faktor-faktor yang menyebabkan mudahnya proses Islamisasi di kepulauan Nusantara, sehingga pada gilirannya nanti menjadi agama utama dan mayoritas di Negeri ini.
Tentang proses pembentukan dan pengembangan masyarakat Islam yang pertama melalui bermacam-macam kontak perkawinan, kontak jual beli dan kontak dakwah langsung, baik secara individual maupun kolektif.

B. Sistem Pendidikan Langgar
Pada hampir di setiap desa yang ditempati kaum muslimin, mereka mendirikan masjid untuk tempat mengerjakan shalat Jum’at, dan juga pada tiap-tiap kampung mereka mendirikan surau atau langgar untuk mengaji al-Qur’an dan tempat mengerjakan shalat lima waktu.
Pendidikan Islam di langgar bersifat elementer, dimulai dengan mempelajari abjad huruf Arab (Hijaiyyah) atau kadang-kadang langsung mengikuti guru dengan menirukan apa yang telah dibaca dari al-Qur’an. Pendidikan di langgar dikelola oleh seorang petugas yang disebut ‘amil, modin atau lebai (di Sumatera) yang mempunyai tugas ganda, di samping memberikan doa pada waktu upacara keluarga atau desa, juga berfungsi sebagai guru. Pelajaran biasanya diberikan pada pagi hari atau petang hari sampai satu dua jam. Pelajaran memakan waktu selama beberapa bulan, tetapi pada umumnya sekitar satu tahun.
Anak-anak belajar dengan guru sambil duduk bersila dan belum memakai bangku atau meja. Guru pun duduk bersila. Mereka belajar pada guru seorang demi seorang dan belum berkelas-kelas seperti pada masa sekarang.
Pengajian al-Qur’an pada pendidikan di Langgar dibedakan pada dua macam, yaitu :
1. Tingkatan rendah, merupakan tingkatan pemula, yaitu mulainya mengenai huruf al-Qur’an sampai bisa membacanya diadakan pada tiap-tiap kampung, dan anak-anak hanya belajar pada malam hari dan pagi hari sesudah shalat shubuh.
2. Tingkatan atas, pelajarannya selain tersebut di atas, ditambah lagi dengan pelajaran lagu, qasidah, tajwid serta mengaji kitab perukunan.
Adapun tujuan pendidikan dan pengajaran di langgar adalah agar anak didik dapat membaca al-Qur’an dengan berirama dan baik, dan tidak dirasakan keperluan untuk memahami isinya. Jadi dalam hal ini hanya sebatas agar anak mampu membaca al-Qur’an dengan baik dan benar, tanpa memperhatikan tentang pemahaman akan isi dan makna al-Qur’an tersebut.
Mengenai metode penyampaian materi pada pendidikan langgar memakai dua sistem, yaitu sistem sorogan, dimana dengan sistem ini anak secara perorangan belajar dengan guru/kyai, dan sistem halaqah yakni seorang guru/kiai dalam memberikan pengajarannya duduk dengan dikelilingi murid-muridnya.

C. Sistem Pendidikan di Pesantren
Ciri-ciri pondok pesantren adalah adanya kiai, santri, masjid dan pondok
Tujuan terbentuknya Pondok pesantren
• Tujuan Umum; Membimbing anak didik untuk menjadi manusia yang berkepribadian Islam yang sanggup dengan ilmu agamanya menjadi mubaliq islam dalam masyarakat sekitar melalui ilmu dan amalnya.
• Tujuan Khusus; Mempersiapkan para santri untuk menjadi orang yang alim dalam ilmu agama yang diajarkan oleh Kyai yang bersangkutan mengamalkannya dalam masyarakat.
Sebagai lembaga pendidikan islam, pesantren memiliki metode pengajaran yang bersifat nonklasikal, diantaranya:
• Metode Wetonan (Halaqah)
Metode yang didalamnya terdapat seorang kiai yang membaca kitab dalam waktu tertentu, sedangkan santrinya membaca kitab yang sama lalu santri mendengarkan dan menyimak kiai.
• Metode Sorogan
Metode yang santrinya cukup pandai mengajkan sebuah kitab kepada kiai dibaca dihadapannya,kesalahaan dalam bacaannya itu landing dibenarkan oleh kiai.

D. Pendidikan Islam Pada Masa Kerajaan Islam di Indonesia

1. Kerajaan Islam di Aceh

a. Kerajaan Samudera Pasai
Para ahli sejarah sependapat bahwa Islam sudah masuk ke daerah Sumatera sejak abad ke-7 atau ke-8 M. Namun, meskipun Islam sudah masuk sejak abad ke-7 M., ternyata dalam perkembangannya memerlukan suatu proses yang sangat panjang untuk bisa mendirikan sebuah kerajaan besar. Memang rasanya tidak mungkin, begitu Islam masuk ke Indonesia langsung berdiri sebuah kerajaan besar. Hal ini bisa dipahami karena Islam pertama kali disebarkan oleh para pedagang baik itu dari Arab langsung maupun dari Gujarat dan Persia dengan cara damai, ditambah lagi masyarakat Islam tidak begitu berambisi untuk merebut kekuasaan politik yang menybabkan Islam berjalan dengan damai dan wajar.
Seorang pengembara dari Maroko yang bernama Ibnu Batutah pernah singgah di Kerajaan Samudera Pasai pada tahun 1345 Mesir pada zaman pemerintahan Sultan Malik az-Zahir, saat perjalanannya ke Cina. Ibnu Batutah menuturkan bahwa ia sangat mengagumi keadaan kerajaan Samudera Pasai, dimana rajanya sangat alim dan kedalaman ilmu keagamaannya dengan menganut faham mazhab Syafi’i seraya menerapkan pola hidup yang sangat sederhana.
Menurut apa yang dikemukakan Ibnu Batutah tersebut, dapat ditarik kepada sistem pendidikan yang berlaku di zaman Kerajaan Samudera Pasai, yaitu:
1. Materi pendidikan dan pengajaran agama di bidang syari’at ialah fiqh mazhab Syafi’i.
2. Sistem pendidikannya secara informal berupa majelis ta’lim dan halaqah.
3. Tokoh pemerintahan merangkap sebagai tokoh agama.
4. Biaya pendidikan agama bersumber dari negara.
Pada zaman Kerajaan Pasai ini, sudah terjadi hubungan antara Malaka dengan Pasai, bahkan Islam berkembang di Malaka lewat Samudera Pasai. Raja Malaka memeluk Islam karena menikah dengan puteri dari Kerajaan Pasai.

b.Kerajaan Islam Perlak
perlak merupakan daerah yang sangat strategis yang terletak di Pantai Selat Malaka, dan bebas dari pengaruh hindu. Berita perjalanan Marcopolo, seorang pengeliling dunia berkebangsaan Italia yang pernah singgah ke Perlak pada tahun 1292 M. Dia menerangkan bahwa ibukota Perlak ramai dikunjungi pedagang Islam dari Timur Tengah, Persia dan India yang segaligus melakukan tugas dakwah. Menurut catatannya, Sultan Perlak yang bernama Sultan Mahdum Alauddin Muhammad Amin yang memerintah antara tahun 1243-1267 M. terkenal sebagai seorang sultan yang arif bijaksana lagi alim sekaligus seorang ulama. Sultan ini juga yang mendirikan semacam perguruan tinggi Islam pada saat itu.
Begitu juga pada Kerajaan Islam Perlak ini terdapat suatu lembaga lainnya berupa majelis ta’lim tinggi, yang dihadiri khusus oleh para murid yang sudah alim dan mendalam ilmunya. Pada majelis ta’lim ini diajarkan kitab-kitab agama yang punya bobot dan pengetahuan tinggi, seperti kitab al-Um karangan Imam Syafi’i dan sebagainya. Dengan demikian di Kerajaan Islam Perlak ini proses pendidikan Islam telah berjalan dengan baik.

c. Kesultanan Aceh Darussalam
Kesultanan Aceh Darussalam diproklamasikan pada tanggal 12 Zulkaedah 916 H (1511 M.) menyatakan perang terhadap buta huruf dan buta ilmu. Hal ini merupakan tempaan sejak berabad-abad yang lalu yang berlandaskan pendidikan Islam dan ilmu pengetahuan.
Aceh pada saat itu merupakan sumber ilmu pengetahuan dengan sarjana-sarjananya yang terkenal di dalam dan di luar negeri, sehingga orang-orang dari luar berdatangan ke Aceh untuk menuntut ilmu. Bahkan ibukota Kesultanan Aceh Darussalam terus berkembang menjadi ibu kota internasional dan menjadi pusat perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan.
Dalam bidang pendidikan di Kesultanan Aceh Darussalam benar-benar mendapat perhatian yang sangat besar. Pada saat itu terdapat lembaga-lembaga negara yang bertugas dalam bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan, di antaranya:
1. Balai Seutia Hukama
Balai ini merupakan lembaga ilmu pengetahuan, tempat berkumpulnya para ulama, ahli pikir dan cendikiawan untuk membahas dan mengembangkan ilmu pengetahuan.
2. Balai Seutia Ulama
Balai ini merupakan jawatan pendidikan yang bertugas mengurus masalah-masalah pendidikan dan pengajaran.
3. Balai Jama’ah Himpunan Ulama
Balai ini merupakan kelompok studi tempat para ulama dan sarjana berkumpul untuk bertukar pikiran membahas persoalan-persoalan pendidikan dan ilmu pendidikannya.
Adapun jenjang pendidikan yang ada adalah sebagai berikut :
1. Meunasah
Didirikan di tiap-tiap kampung, Meunasah dapat disejajarkan dengan sekolah dasar, biasanya anak yang berusia 6-7 atau 8 tahun disuruh belajar mengaji (membaca al-Qur’an) di Meunasah. Juga diajarkan menulis huruf Arab, ilmu agama, bahasa Melayu, akhlak dan sejarah Islam. Di samping itu Meunasah juga berfungsi sebagai tempat shalat berjama’ah, pengajian, perayaan hari-hari besar Islam, penyelesaian persengketaan, musyawarah mengenai kepentingan masyarakat, upacara pernikahan dan lain-lain, menyebabkan kehidupan beragama anak diharapkan semakin berkembang.
2. Rangkang
Diselenggarakan di setiap mukim, merupakan masjid sebagai tempat berbagai aktivitas umat termasuk pendidikan. Rangkang adalah setingkat Madrasah Tsanawiyah. Materi yang diajarkan: bahasa Arab, ilmu bumi, sejarah, berhitung (hisab) akhlak, fiqh dan lain-lain.
3. Dayah
Terdapat di setiap daerah ulebalang dan terkadang berpusat di masjid, dapat disamakan dengan Madrasah Aliyah sekarang. Materi yang diajarkan; fiqh, bahasa Arab, tauhid, tasawuf/akhlak, ilmu bumi, sejarah/tata negara, ilmu pasti dan faraid.
4. Dayah Teuku Cik
Dapat disamakan dengan perguruan tinggi atau akademi, diajarkan fiqh, tafsir, hadist, tauhid (ilmu kalam), akhlak/tasawuf, ilmu bumi, ilmu bahasa dan sastra Arab, sejarah dan Tata Negara, mantiq, ilmu falaq dan filsafat.

2. Kerajaan Demak
Tentang berdirinya kerajaan Demak, para ahli sejarah tampaknya berbeda pendapat. Sebagian ahli berpendapat bahwa kerajaan Demak berdiri tahun 1478 M. Adapula yang berpendapat, bahwa kerajaan Demak berdiri tahun 1518 M. Kehadiran Kerajaan Islam Demak dipandang oleh rakyat Majapahit sebagai cahaya baru yang membawa harapan.
Pelaksanaan Pendidikan Islam di Kerajaan Demak
Demak mempunyai kemiripan dengan Aceh yaitu mendirikan masjid di tempat-tempat yang menjadi sentral di suatu daerah, disana diajarkan pendidikan agama dibawah pimpinan seorang Badal untuk menjadi seorang guru, yang menjadi pusat pendidikan dan pengajaran serta sumber agama islam.

3. Kerajaan Islam Mataram (1575-1757)
Kerajaan Demak ternyata tidak bertahan lama, pada tahun 1568 M terjadi perpindahan kekuasaan dari Demak ke Pajang. Namun adanya perpindahan ini tidak menyebabkan terjadinya perubahan yang berarti terhadap sistem pendidikan dan pengajaran Islam yang sudah berjalan.
Baru setelah kerajaan Islam berpindah dari Pajang ke Mataram terutama di saat Sulan Agung telah mempersatukan Jawa Timur dengan Mataram serta daerah-daerah yang lain, sejak tahun 1630 M Sultan mencurahkan perhatiannya untuk membangun negara, seperti menggalakkan pertanian, perdagangan dengan luar negeri dan sebagainya, bahkan pada zaman Sultan Agung, kebudayaan, kesenian dan kesusastraan sangat maju.
Atas usaha dan kebijaksanaan Sultan Agunglah kebudayaan yang lama yang berdasarkan Indonesia asli dan Hindu dapat diadaptasikan dengan agama dan kebudayaan Islam, seperti :
1. Grebek disesuaikan dengan hari raya Idul Fitri dan Maulud Nabi. Sejak saat itu terkenal dengan Grebek Posi (puasa) dan Grebek Maulud.
2. Gamelan Sekaten yang hanya dibunyikan pada Gerebek Maulud atas kehendak Sultan Agung dipukul di halaman masjid besar.

Pelaksanaan Pendidikan dan Pengajaran Agama Islam
Pada zaman kerajaan Mataram, anak-anak usia sekolah belajar pada tempat-tempat pengajian di desanya atas kehendak orang tuanya sendiri. Ketika itu hampir di setiap desa diadakan tempat pengajian Al-Qur’an, yangdiajarkan huruf hijaiyah, membaca Al-Qur’an, dan dasar-dasar ilmu agama islam dan sebagainya. Selain pelajaran Al-Qur’an, juga ada tempat pengajian kitab bagi murid-murid yang telah khatam Al-Qur’an. Tempat pengajiannya disebut pesantren.

4. Kerajaan Islam di Banjarmasin
Tentang awal berdirinya Kerajaan Islam Banjar ini, menurut Drs. Idwar Saleh ialah pada hari Rabu Wage, 24 September 1526 M, dua hari sebelum hari raya Idul Fitri, sesudah Pangeran Samudera yang kemudian berganti nama dengan Sultan Suriansyah.
Dibawah pemerintahan Sultan Tahmilillah lahir seorang ulama terkenal yaitu Syekh Muhammad Arsyad al Banjary, beliau banyak mengarang kitab-kitab agama. Kemudian beliau mendirikan pondok pesantren Darussalam. System pengajian di pesantren Banjarmasin, tidak nerbeda dengan di Jawa ataupun Sumatera, yaitu menggunakan system halaqah, menerjemahkan kitab-kitab yang dipakai ke dalam bahasa daerah(banjar), sedangkan santrinya menyimak.

BAB 4
Organisasi Dan Pendidikan Islam Di Indonesia

A. Sebelum Kedatangan Bangsa Eropa
Sejarah pendidikan Islam di Indonesia pada mulanya didasarkan pada sistem kedaerahan. Belum terkoordinir dan terpusat seperti sekarang. Sebab, setiap daerah berusaha melancarkan pendidikan dan pengajaran Islam menurut daerah masing-masing. Karena itu, corak pendidikan Islam suatu daerah berbeda dengan pendidikan daerah lainnya. Misalnya, Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan sebagainya.

B. Datangnya Orang-orang Barat Eropa
Diberikannya pendidikan agama pada waktu itu bertujuan untuk:
1. Mengajak manusia berbuat baik, patuh menjalankan agama secara bersungguh-sungguh dalam arti mengerjakan apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya;
2. Menjaga tradisi, maksudnya sesuatu yang dianggap penting dan diperlukan oleh keluarga dan masyarakat, harus diturunkan dan diajarkan kepada anak-cucu secara turun temurun sebagai regenerasi.
Metode pendidikan yang digunakan waktu itu bermasam-macam, antara lain:
1. Ceramah atau nasehat langsung; Metode ini biasa digunakan di tempat-tempat berkumpulnya kaum muslimin, seperti masjid, mushalla atau langgar. Nasihat yang diberikan terutama tentang persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat pada umumnya;
2. Pemberian tauladan yang baik; Dengan penampilan pribadi yang baik dan mengesankan, menonjolkan tingkah laku yang baik dan terpuji, sehingga melahirkan daya tarik bagi para murid untuk ditiru dan ditauladani yang kemudian diamalkan;
3. Menggunakan media kesenian; Melalui kesenian, para ulama menyebarkan pemahaman keislaman kepada masyarakat. Sunan Giri, misalnya, menanamkan faham agama kepada anak-anak melalui bermacam-macam permainan dan nyanyian dalam bahasa Arab. Sunan Kalijaga menyebarkan pemahaman keislaman melalui wayang. Peringatan Maulid Nabi Muhammad di Solo dan Yogjakarta dengan menggunakan Gamelan Sekaten (Sekaten berasal dari kata Syahadatain= Dua kalimat Syahadat). Cara ini yang kemudian dilakukan oleh misionaris Kristen saat ini dalam menyebarkan agama Kristen di Indonesia.

C. Zaman Penjajahan Belanda
1. Pendidikan Islam Sebelum Tahun 1900.
Sebelum tahun 1900, pendidikan Islam dilakukan secara perorangan, secara rumah tangga dan melalui surau/langgar atau mesjid. Pendidikan perorangan dan rumah tangga itu lebih menekankan pada pelajaran praktis, misalnya tentang ketuhanan, keimanan dan masalah-masalah yang berhubung-an dengan ibadah. Pelajaran yang sistematis belum ada, dan pemisahan mata pelajaranpun belum ada. Sedangkan pendidi-kan surau mempunyai dua tingkatan, yaitu: pelajaran al Quran dan pengkajian kitab.
Menurut Mahmud Yunus, pendidikan Islam pada masa ini setidaknya memiliki 8 ciri, yaitu:
a. Pelajaran diberikan satu demi satu;
b. Pelajaran ilmu sharaf didahulukan daripada ilmu nahwu;
c. Buku pelajaran mulanya dikarang oleh ulama Indonesia dan diterjemahkan ke dalam bahasa daerah setempat;
d. Kitab yang digunakan umumnya ditulis tangan;
e. Pelajaran suatu ilmu hanya diajarkan dalam satu macam buku saja;
f. Toko buku belum ada, yang ada hanyalah menyalin buku dengan tulisan tangan;
g. Karena terbatasnya bacaan, materi ilmu agama sangat sedikit;
h. Belum lahir aliran baru dalam Islam.

Pada periode ini memang sulit untuk menentukan secara pasti kapan dan dimana surau atau langgar dan pesantren yang pertama berdiri.

2. Pendidikan Islam Pada Masa Peralihan (1900-1908).
Kalau sebelim tahun 1990 lembaga-lembaga pendidikan islam masih relative sedikit dan berlangsung secara sederhana. Dalam priode peralihan telah banyak berdiri tempat pendidikan terkenal di Sumatera, seperti Parabek Bukit Tinggi(1908)

Adapun pelajaran agama Islam pada masa peralihan itu bercirikn hal-hal sebagai berikut:
a. Pelajaran untuk dua sampai enam ilmu dihimpun secara sekaligus;
b. Pelajaran ilmu Nahwu didahulukan atau disamakan dengan ilmu sharf;
c. Buku pelajaran semnuanya karangan ulama Islam Kuno dan dalam bahasa Arab;
d. Buku-buku semua dicetak;
e. Suatu ilmu diajarkan dari beberapa macam buku, rendah, menengah dan tinggi;
f. Ilmu agama telah berkembang luas berkat banyaknya buku bacaan;
g. Aliran baru dalam Islam seperti dibawa oleh Majalah Al-Manar di Mesir mulai lahir.

3. Pendidikan Islam Sesudah Tahun 1909
Isu Nasionalisme gaungnya merambah ke mana-mana. Ini berkat tampilnya Boedi Oetomo pada tahun 1908 yang menyadarkan bangsa Indonesia, bahwa perjuangan mereka selama ini yang hanya mengandalkan kekuatan dan kedaerahan tanpa menunjukkan persatuan, sulit untuk mencapai keberhasilan. Karena itulah, sejak tahun 1908 timbuil kesadaran baru dari bangsa Indonesia untuk memperkuat persatuan.
Tak tekecuali kesadaran yang demikian juga muncul pada kalangan pendidik Islam. Dengan demikian berdirilah seperti madrasah Adabiyah tahun 1909, madrasah Diniyah, dll.
Dari tahun berdirinya madrasah-madrasah tersebut, dapat disimpulkan bahwa system madrasah baru dikenal pada permulaan abad ke-20. System ini membawa pembaharuan antara lain:
• Perubahan sistem pengajaran, dari perorangan atau sorogan menjadi klasikal
• Pengajaran pengetahuan umum disamping pengetahuan agama dan bahsa arab

D. Pendidikan Islam Zaman Penjajahan Jepang.
Jepang muncul sebagai Negara kuat di Asia. Jepang menginginkan menjadi pusat suatu lingkungan yang berpengaruh atas daerah-daerah Mansyuriah, Daratan Cina, Kepulauan Filipina, Indonesia, Malaysia, Thailand, Indo Cina dan Rusia. Dan masa keemasan kaum penjajah Belanda hilang ketika pada tanggal 8 maret 1942 mereka bertekuk lutut tanpa syarat kepada Jepang
1. Tujuan Persekolahan Secara Umum
Sekolah-sekolah yang ada pada zaman Belanda diganti dengan sistem Jepang
Kegiatan sehari-hari sekolah, antara lain:
a. Mengumpulkan batu dan pasir, untuk kepentingan perang;
b. Membersihkan bengkel-bengkel, asrama militer;
c. Menanam umbi-umbian, sayur-sayuran di pekara-ngan sekolah untuk persediaan makanan;
d. Menanam pohon jarak untuk bahan pelumas.

Tujuan pendidikan pada zaman Jepang tak banyak ditemukan, yang merupakan tujuan utama hanyalah memenangkan peperangan.
Kendatipun demikian, ada hal yang perlu dicatat, yaitu adanya perubahan mendasar dalam bidang pendidikan yang penting artinya bagi bangsa Indonesia. Yaitu:
a. Hapusnya dualisme pengajaran;
b. Pemakainan Bahasa Indonesia

2. Sikap Jepang Terhadap Pendidikan Islam
Tentang sikap Jepang terhadap pendidikan Islam ternyata lebih lunak, sehingga ruang gerak pendidikan Islam lebih bebas ketimbang zaman Belanda. Terlebih pada tahap permulaan, Jepang menampakkan diri seakan-akan membela kepentingan Islam, mereka menempuh beberapa kebijaksanaan, antara lain:
• KUA yang pada mada Belanda dipimpin oleh orientalis Belanda, diubah oleh Jepang yang dipimpin oleh ulama Islam sendiri
• Pondok Pesantren yang besar seringkali mendapat bantuan pembesar Jepang
• Sekolah Negeri diberi pelajaran budi pekerti yang isinya identik dengan agama
• Jepang mengizinkan Hisbullah untuk memberikan latihan dasar kemiliteran bagi pemuda Islam
• Jepang mengizinkan pembentukan Sekolah Tinggi Islam di Jakarta
• Para ulama Islam bekerja sama dengan pemimpin-pemimpin nasionalis diizinkan membentuk barisan Pembela Tanah Air(PETA)
• Umat Islam diizikan meneruskan organisasi persatuan yang disebut Majelis Islam a’la Indonesia (MIAI) yang bersifat kemasyarakat

E. Pendidikan Islam Zaman Kemerdekaan.
Setelah Indonesia merdeka, penyelenggaraan pendidi-kan agama mendapat perhatian serius dari pemerintah, baik di sekolah Negeri maupun Swasta. Usaha untuk itu dimulai dengan memberikan bantuan terhadap lembaga tersebut sebagaimana yang dianjurkan oleh Badan Pekerja Komite Nasional Pusat (BPKNP) tanggal 27 Desember 1945 yang menyebutkan bahwa:
“Madrasah dan pesantren yang pada hakekatnya adalah suatu alat dan sumber pendidikan dan pencerdaan rakyat jelata yang sudah berurat berakar dalam masyarakat Indonesia umumnya, hendaklah pula mendapat perhatian dan bantuan nyata berupa tuntunan dan bantuan material dari pemerintah”.
Kenyataan demikian timbul karena kesadaran umat islam yang dalam, setelah sekian lama terpuruk di bawah kekuasaan penjajah. Sebab, pada zaman penjajahan Belanda, pintu masuk pendidikan modern bagi umat islam sangat sempit. Ini setidaknya disebabkan karena dua hal:
a. Sikap dan kebijaksanaan pemerintah kolonisl amat diskriminatif terhadap kaum muslimin;
b. Politik non kooperatif para ulama terhadap Belanda dengan memfatwakan bahwa ikut serta dalam budaya Belanda, termasuk pendidikannya adalah suatu bentuk penyelewengan agama.
Tetapi setelah kemerdekaan Indonesia dicapai, terjadi perubahan yang sangat radikal dalam pendidikan Islam, termasuk berdirinya lembaga-lembaga pendidikan yang didirikan oleh organisasi-organisasi sosial Islam.

E. Pendidikan Islam Zaman Kemerdekaan II (1965- Sekarang)
a) Masa Peralihan Orde Lama ke Ore Baru
Sejak ditumpasnya peristiwa G30 S/PKI pada tanggal 30 Oktober 1965, bangsa Indonesia telah memasuki fase baru yang dinamakan Orde Baru.
Orde baru adalah :
• Sikap mental yang positif untuk menghentikan dan mengoreksi segala penyelewengan terhadap Pancasila dari UUD 1945.
• Memperjuangkan adanya masyarakat yang adil dan makmur, baik material dan spiritual melalui pembangunan.
• Sikap mental mengabdi kepada kepentingan rakyat dan melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen.
Dalam Pasal 4 TAP MPRS No.XXVII/MPRS/1966 tersebut selanjutnya disebutkan tentang isi pendidikan, di mana untuk mencapai dasar dan tujuan pendidikan, maka isi pendidikan adalah :
• Mempertinggi mental, moral, budi pekerti dan memperkuat keyakinan beragama.
• Mempertinggi kecerdasan dan ketrampilan
• Membina dan mengembangkan fisik yang kuat dan sehat.
Pendidikan pada hakikatnya adalah usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah berlangsung seumur hidup. Oleh karenanya agar pendidikan dapat dimiliki oleh sebuah rakyat sesuai dengan kemampuan masing-masing individu.
Menurut UU Nomor 2 tahun 1989 tersebut, pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dan berbudi pekerti luhur, memiliki ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dari undang-undang Sistem Pendidikan Nasional ini, mengusahakan :
• Membentuk manusia Pancasila sebagai manusia pembangunan yang tinggi kualitasnya yang mampu mandiri.
• Pemberian dukungan bagi perkembangan masyarakat, bangsa dan negara Indonesia yang terwujud dalam ketahanan nasional yang tangguh, yang mengandung terwujudnya kemampuan bangsa menangkal setiap ajaran, paham dan idiologi yang bertentangan dengan Pancasila.

b. Keberadaan Pendidikan Agama Islam.
Sejak tahun 1966 pendidikan agama menjadi hak wajib mulai dari sekolah dasar (SD) sampai Perguruan Tinggi Umum Negri di seluruh Indonesia.
Pemerintah dan rakyat membangun manusia seutuhnya dan masyarakat Indonesia seluruhnya. Berdasarkan tekad dan semangat tersebut, kehidupan pendidikan beragama dan pendidikan agama khususnya, makin memperoleh tempat yang kuat dalam struktur organisasi pemeritahan dan dalam masyarakat pada umumnya.
Pembangunan nasional memang dilaksanakan dalam rangka pembangunan manusia Indonesia dan masyarakat Indonesia seutuhnya. Hal ini berarti adanya keserasihan keseimbangan dan keselarasan antara pembangunan bidang jasmani dan rohani, antara bidang material dan spiritual, antara bekal kedniaan dan ingin berhubungan dengan Tuhan yang Maha Esa, dengan sesame manusia dan dengan lingkungan hidupnya secara seimbang. Pembangunan seperti itu menjadi pangkal tolak pembangunan bidang agama.
Sasaran pembangunan jangka panjang dalam bidang agama adalah terbinanya keimanan bangsa Indonesia kepada Tuhan yang Maha Esa, dalam kehidupan yang selaras, seimbang dan serasi antara Ilahiah dan rohaniah, mempunyai jiwa yang dinamis dan semangat gotong royong, sehingga bangsa Indonesia sanggup meneruskan perjuangan untuk mencapai cita-cita dan tujuan nasional.

c. Pendidikan Islam dan Sistem Pendidikan Nasional.
Adanya peluang dan kesempatan untuk berkembangnya pendidikan Islam secara terintegrasi dalam sistem pendidikan nasional tersebut, dapat kita lihat dari beberapa padal, diantaranya sebagai berikut :
1) Pasal 1 ayat 2, yaitu, Pendidikan Nasional adalah pendidikan yang berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia dan yang berdasarkan pada UUD 1945. tidak bisa dipungkiri bahwa Pendidikan Islam, baik sebagai sistem maupun instrusinya merupakan warisan budaya bangsa, yang berurat akar pada masyarakat bangsa Indonesia. Dengan demikian, jelaslah bahwa pendidikan Islam merupakan bagian integral dari sistem pendidikan nasional.
2) Pasal 4 tentang Tujuan Pendidikan Nasional, yaitu : pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap TuhanYang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur.
3) Pada pasal 10 dinyatakan bahwa pendidikan keluarga merupakan bagian dari jalur pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan dalam keluarga dan memberikan keyakinan agama, nilai budaya,nilai moral dan keterampilah. Kita ketahui bahwa keluarga merupakan lembaga pendidikan yang pertama dan ulama, menurut ajaran Islam.

d. Pengintegrasian Pelajaran Agama dan Pelajaran Umum.
Integrasi merupakan pembauran sesuatu hingga menjadi kesatuan yang utuh. Integrasi pendidikan adalah proses penyesuaian antara unsur-unsur ynag saling berbeda sehingga mencapai suatu keserasian fungsi dalam pendidikan. Integrasi pendidikan memerlukan integrasi kurikulum, dan secara lebih khusus memerlukan integrasi pelajaran. Inilah yang terjadi pada pelajaran agama dengan pelajaran umum.
Ada dua cara yang memungkinkan untuk menghubungkan mata pelajaran agama dengan mata pelajaran lain, yakni cara sistematis.
1) Cara okasional, yaitu dengan cara bagian dari satu pelajaran dihubungkan dengan bagian dari pelajaran lain bila ada kesempatan yang baik.
2) Cara sistematis, yaitu dengan cara bahan-bahan pelajaran itu dihubungkan lebih dahulu menurut rencana tertentu sehingga bahan-bahan itu seakan-akan merupakan satu kesatuan yang terpadu.

G. Organisasi Islam Penyelenggara Pendidikan.

Latar belakang munculnya oeganisasi-organisasi Islam di Indonesia lebih banyak dikarenakan mulai tumbuhnya sikap patriotisme dan nasionalisme. Dari organisasi Islam ini ditumbuhkan dan dikembangkan sikap dan rasa nasionalisme dikalangan rakyat melalui pendidikan.
Di Indonesia terdapat banyak perkumpulan-perkumpulan atau organisasi-organisasi Islam yang berkembang. Dalam makalah ini, perkumpulan atau organisasi Islam yang kami angkat yaitu Jami’at Khair dan Muhammadiyah serta tokoh-tokohnya dan bagaimana peranannya terhadap pendidikan Islam pada masa itu.

1. Jami’at Khair
Jami’at Khair didirikan pada tanggal 17 Juli 1905 di Jakarta. Usaha dari organisasi ini dipusatkan pada pendidikan, dakwah dan penerbitan surat kabar
Hal-hal yang menjadi perhatian utama organisasi ini yaitu:
a. Pendirian dan pembinaan satu sekolah pada tingkat dasar.
b. Pengiriman anak-anak ke Turki untuk melanjutkan studinya.
Bidang kurikulum sekolah dan jenjang kelas-kelas umpamanya, sudah diatur dan disusun secara terorganisasi, sementara itu bahasa Indonesia dan bahasa Melayu dipergunakan sebagai bahasa pengantar. Adapun bahasa Belanda tidak diajarkan dan sebagai gantinya bahasa Inggris yang dijadikan pelajaran wajib. Dengan demikian, terhimpunlah anak-anak dari keturunan Arab, ataupun anak-anak Islam dari Indonesia sendiri.

2.Muhammadiyah

A. Kelahiran Muhammadiyah dan Tokoh Pendirinya
Muhammadiyah adalah organisasi Islam, social, dan kebangsaan. Organisasi atau perkumpulan ini didirikan di Yogyakarta pada tanggal 8 Djulhijah 1330 H oleh KH Ahmad Dahlan.
1) Riwayat Hidup K.H. Ahmad Dahlan
Ahmad Dahlan yang nama kecilnya Muhammad Darwis dilahirkan di kampung Kauman di pusat kota Yogyakarta pada tahun 1868 M/1285 H. ayahnya KH Abu Bakar bin KH Muhammad Sulaiman masih keturunan dari Maulana Malik Ibrahim, salah seorang dari walisongo. KH Abu Bakar adalah seorang ulama yang cukup terkenal di Yogyakarta dan menjabat sebagai Khatib di masjid besar Kesultanan di Kauman Yogyakarta. Sedangkan ibunya adalah putrid dari H. Ibrahim bin KH. Hasan yang juga menjabat sebagai penghulu kesultanan Yogyakarta. Dengan demikian, dapat diketahui bahwa Muhammad Darwis ini dilahirkan dari kelurga Kyai yang taat dalam beragama dan aktif dalam mengembangkan ajaran Islam.
2) Pendidikannya
Semasa kecilnya, Ahmad Dahlan tidak pernah bersekolah secara resmi ke lembaga-lembaga pendiidkan yang ada saat itu karena orang-orang Islam pada saat itu melarang anak-anaknya untuk memasuki sekolah Gubernemen. Tapi walaupun beliau tidak berseklah di lembaga pendidikan, beliau mendapat pendidikan langsung dari ayahnya yang seorang ulama. Selain belajar secara langsung kepada ayahya, dia juga mendapakan pendidikan dari pengajian-pengajian yang diadakan di Yogyakarta yang meliputi nahwu, fiqih, tafsir, dan lain-lain. Dengan bantuan kakaknya (Nyai Haji Saleh), pada tahun 1890 melanjutkan pendidikannya ke Mekkah, dan belajar disana selama satu tahun.
Di Mekkah, KH Ahmad Dahlan bertemu dengan KH Baqir seorang alim dari Kauman Yogyakarta yang bermukim di Mekkah dan membantu mengajarkan ilmu agama kepada KH Ahmad Dahlan. KH Baqir juga mempertemukan KH Ahmad Dahlan dengan Rasyid Ridha dan berdiskusi untuk bertukar pikiran dalam rangka semangat pembaharuan, dan semangat pembharuan ini yang benar-benar diresapi oleh KH Ahmad Dahlan saat itu.

B. Tujuan dan Usaha
Tujuan yang dirumuskan Muhammadiyah dari waktu kewaktu sering berbeda,namun pada esensi maknanya tetap sama. Pada waktu didirikan, rumusan tujuan Muhammadiyah adalah sebagai berikut:
1. Menyebarkan ajaran Nabi Muhammad SAW, kepada penduduk Yogyakarta dan sekitarnya.
2. Memajukan agama Islam kepada anggota-anggotanya.
Setelah Muhammadiyah meluas ke luar daerah Yogyakarta, tujuan ini dirumuskan lagi menjadi:
1. Memajukan dan menggembirakan pengajaran Agama Islam di Hindia Belanda.
2. Memajukan dan menggembirakan hidup sepanjang tidak bertentangan dengan agama Islam kepada masyarakat luas.
Selanjutnya pada zaman Jepang rumusan tujuan Muhammadiyah adalah:
1. Hendak menyiarkan agama Islam serta melatih hidup selaras dengan tuntutannya.
2. Hendak melakukan pekerjaan kebaikan umum.
3. Hendak memajukan pengetahuan dan perdamaian serta budi pekerti yang baik kepada anggota-anggotanya.
Adapun pada zaman kemerdekaan, rumusan tujuan inipun kembali mengalami perubahan, yaitu untuk menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Untuk mewujudkan maksud dan tujuan tersebut, diadakan usaha-usaha:
1. Mengadakan dakwah.
2. Memajukan Pendidikan dan pengajaran.
3. Menghidupsuburkan masyarakat tolong-menolong.
4. Mendirikan dan memelihara tempat ibadah dan wakaf.
5. Mendidik dan mengasuh anak-anak dan pemuda-pemuda supaya kelak menjadi orang Islam yang berarti.
6. Berusaha kearah perbaikan penghidupan dan kehidupan yang sesuai dengan ajaran Islam.
7. Berusaha dengan segala kebijaksanaan, supaya kehendak dan peraturan Islam berlaku dalam masyarakat.

C. Usaha Muhammadiyah di Bidang Pendidikan
Dasar dan Fungsi Lembaga Pendidikan
Yang menjadi dasar pendidikan Muhammadiyah adalah:
a. Tajdid; kesediaan jiwa berdasarkan pemikiran baru untuk mengubah cara berpikir dan cara berbuat yang sudah terbiasa demi mencapai tujuan pendidikan.
b. Kemasyarakatan; antara individu dan masyarakat supaya diciptakan suasana saling membutuhkan. Yang dituju adalah keselamatan masyarakat sebagai suatu keseluruhan.
c. Aktivitas; anak didik harus mengamalkan semua yang diketahuinya dan menjadikan pula aktivitas sendiri sebagai salah satu cara memperoleh pengetahuan yang baru.
d. Kreativitas; anak harus mempunyai kecakapan atau keterampilan dalam menentukan sikap yang sesuai dan menetapkan alat-alat yang tepat dalam menghadapai situasi-situasi baru.
e. Optimisme; anak harus yakin bahwa dengan keridhaan Tuhan, pendidikan akan membawanya kepada hasil yang dicita-citakan, asal dilaksanakan dengan penuh dedikasi dan tanggung jawab, serta menjauhkan diri dari segala sesuatu yang menyimpang dari segala yang digariskan oleh agama Islam.
Adapun lembaga pendidikannya berfungsi sebagai berikut:
a. Alat dakwah ke dalam dan ke luar anggota-anggota Muhammadiyah. Dengan kata lain, untuk seluruh anggota masyarakat.
b. Tempat pembibitan kader; yang dilaksanakan secara sistematis dan selektif, sesuai dengan kebutuhan Muhammadiyah khususnya, dan masyarakat Islam pada umumnya.
c. Gerak amal anggota; penyelenggaraan pendidikan diatur secara berkewajiban terhadap penyelenggaraan dan peningkatan pendidikan itu, dan akan menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah-sekolah Muhammadiyah.

D. Penyelenggaraan Pendidikan
Muhammadiyah mendirikan berbagai jenis dan tingkat pendidikan, serta tidak memisah-misahkan antara pelajaran agama dan pelajaran umum. Dengan demikian, diharapkan bangsa Indonesia dapat dididik menjadi bangsa yang utuh berkepribadian, yaitu pribadi yang berilmu pengetahuan umum luas dan agama yang mendalam.
Pada zaman pemerintah kolnial Belanda, sekolah-sekolah yang dilaksanakan Muhammadiyah adalah:
1. Sekolah Umum, Taman Kanak-kanak (Bustanul Atfal), Vervolg School 2 tahun, Schakel School 4 tahun, HIS 7 tahun, MULO 3 tahun, AMS 3 tahun, dan HIK 3 tahun. Pada sekolah-sekolah tersebut diajarkan pendidikan agama Islam sebanyak 4 jam pelajaran seminggu.
2. Sekolah Agama; Madrasah Ibtidaiyah 3 tahun, Tsanawiyah 3 tahun, Mualimin/Muallimat 5 tahun, Kulliatul Muballigin (SPG Islam) 5 tahun.
Pendidikan yang diselenggarakan Muhammadiyah mempunyai andil yang sangat besar bagi bangsa dan Negara, dan tentu saja menghasilkan keuntungan-keuntungan diantaranya:
1. Menambah kesadaran nasional bangsa Indonesia melalui ajaran Islam.
2. Melalui sekolah-sekolah Muhammadiyah, ide-ide reformasi Islam secara luas disebarkan.
3. Mempromosikan kegunaan ilmu pengetahuan modern.
Selanjutnya pada zaman kemerdekaan, sekolah Muhammadiyah mengalami perkembangan yang pesat. Pada dasarnya, ada empat jenis lembaga pendidikan yang dikembangkan, yaitu:
1. Sekolah-sekolah umum yang bernaung di bawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, yaitu: SD, SMTP, SMTA, SPG, SMEA, SMKK dan sebagainya. Pada sekolah-sekolah ini diberikan pelajaran agama sebanyak 6 jam seminggu.
2. Madrasah-madrasah yang bernaung di bawah Departemen Agama, yaitu: (MA). Madrasah-madrasah ini ada setelah adanya SKB 3 menteri tahun 1976 dan SKB 2 Menteri tahun 1984, mutu pengetahuan umumnya sederajat dengan pengetahuan dari sekolah umum yang sederajat.
3. Jenis sekolah atau Madrasah khusus Muhammadiyah, yaitu: Muallimin, Muallimat, Sekolah Tabliq dan Pesantren Muhammadiyah.
4. Perguruan Tinggi Muhammadiyah; untuk Perguruan Tinggi Muhammadiyah umum di bawah pembinaan Kopertais (Depdikbud), dan Perguruan Tinggi Muhammadiyah Agama di Bawah pembinaan Kopertais (Departemen Agama).

E. Strategi Pengembangan Pendidikan
Sistem pendidikan yang dikembangkan adalah sistesis antara system pendidikan Islam tradisional yang berbasis di Pesantren dan system pendidikan modern. Tujuan akhir (the ultimate goal) yang hendak dicapai ialah menghasilkan lulusan yang memiliki pengetahuan umum yang memadai atau istilah yang tren sekarang “ulama intelek”.
Sikap Muhammadiyah yang mengambil jalan tngah dalam system pendidikannya, membawa pengaruh atau efek cukup luas pada perkembangan kehidupan keagamaan di Indonesia.

F. Pesantren Muhammadiyah
Pertama kali KH. Ahmad Dahlan mencoba mendirikan pesantren yang dinamakan dengan “Pondok Muhammadiyah” pada tahun1912. Karel A. Steenbrink dalam bukunya Pesantren, Madrasah dan Sekolah, mencatat bahwa pada tahun 1968, pimpinan Muhammadiyah di Yogyakarta mencoba membuat pola pendidikan baru yang dinamakan “Pendidikan Ulama Tarjih”. Usaha itu dimulai dengan membentuk suatu kelompok dengan anggota paling banyak 25 orang. Kelompok ini selama tiga tahun secara tetap belajar pada seorang guru (Kyai) seperti di Pesantren. Waktu belajar dilaksanakan disekitar waktu shalat. Pelajaran diberikan tiap hari, kecuali hari jum’at. Tidak mengenal hari libur dan tidak mengenal ijazah yang diakui pemerintah. Selama jam belajar, para santri tidak belajar di atas bangku melainkan bersila di atas lantai. Pada tahun kedua, diberikan pelajaran tambahan bahasa Indonesia, bahasa Inggris dan ilmu pendidikan (Karel: 1986, dalam Enung dan Fenti, 2006: 87).
Organisasi Muhammadiyah tersebar ke seluruh pelosok tanah air, secara vertical dan diorganisasikan dari tingkat pusat, wilayah, daerah, cabang, dan ranting. Untuk menangani kegiatan yang beragam tersebut dibentuklah kesatuan-kesatuan kerja yang bertugas membentuk Pimpinan Perserikatan menurut bidangnya masing-masing.
Kesatuan-kesatuan kerja ini berbentuk majelis-majelis, antara lain: Majelis Tarjih, Majelis Tabligh, Majelis Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan, Majelis Pembinaan Kesejahteraan Umat (PKU), Majelis Pustaka, dan Majelis Bimbingan Pemuda.
Ada juga organisasi-organisasi otonom di bawah naungan Muhammadiyah seperti Aisyiyah (bagian wanitanya), Nasyiatul Aisyiyah (bagian putrid-putrinya), Pemuda Muhammadiyah, dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Di bidang kepanduan juga terdapat Hizbul Wathan

3. Nahdlatul Ulama (NU)
Nahdlatul Ulama pada waktu berdirinya ditulis dengan ejaan lama “Nahdlatoel Oelama (NU)” didirikan di Surabaya pada tanggal 31 Januri 1926 M bertepatan dengan tanggal 16 Rajab 1444 H oleh kalangan ulama penganut mazhab yang seringkali menyebut dirinya sebagai golongan Ahli Sunnah Wal Jama’ah yang dipelopori oleh K.H. Hasyim Azhari dan K.H. Andul Wahab Hasbullah.

Dalam bidang pendidikan dan pengajaran NU membentuk satu badan khusus yang menanganinya yang disebut Ma’arif, dimana tugasnya adalah untuk membentuk perundangan dan program pendidikan dilembaga-lembaga pendidikan atau sekolah yang berada dibawah naungan NU.
Berdasarkan hasil Rapat Kerja Ma’arif yang diselenggarakan pada tahun 1978, disebutkan tentang program-program kerja Ma’arif, antara lain:
• Pemantapan sistem pendidikan Ma’artif meliputi:
Tujuan pendidikan Ma’arif:
• Menumbuhkan jiwa pemikiran dan gagasan-gagasan yang dapat membentuk pandangan hidup bagi anak didik sesuai dengan ajaran Ahlussunah Waljama’ah.
• Menanamkan sikap terbuka, watak mandiri, kemampuan berkerja sama dengan pihak untuk lebih baik, keterampilan menggunakan ilmu dan teknologi, uang kesemuaannya adalah perwujudan pengabdian kepada Allah.
• Menciptakan sikap hidup yang berorietasi kepada kehidupan duniawi dan ukhrawi sebagai sebuah kesatuan.
• Menanamkan penghayatan terhadap nilai-nilai ajaran agama Islam sebagai ajaran yang dinamis.
Penataan kembali orientasi pendidikan ma’arif, dari orientasi pecapaian pengetahuan scholastic yang diakhiri dengan pemberian ijazah, ke orientasi kemampuan melakukan kerja di bidang kemanusiaan dan kemasyarakatan.
Mengkaitkan pelajaran agama di sekolah-sekolah Ma’arif dengan persoalan-persoalan hukum, lingkungan hidup, solidaritas sosial, wirasuasta dan sebagainya.
Mengembangkan watak kultural ke-NU-an
Secara makro, memberikan porsi yang lebih besar terhadap pendidikan non formal
 Peningkatan organisasi Ma’arif
 Penyediaan data dan informasi tentang sekolah-sekolah Ma’arif
 Penerbitan
 Peningkatan mutu guru Ma’arif.

4. Al-Irsyad
al Irsyad merupakan madrasah yang tertua dan termasyhur di Jakarta yang didirikan pada tahun 1913 oleh Perhimpinan Al Irsyad Jakarta dengan tokoh pendirinya Ahmad Surkati al-Anshari

Tujuan perkumpulan ini adalah memajukan pelajaran agama Islam yang murni di kalangan bangsa Arab. Dalam bidang pendidikan, al-Irsyad mendirikan madrasah:
• Awaliyah, lama pelajaran 3 tahun
• Ibtidaiyah, lama belajar 4 tahun
• Tajhiziah, lama belajar 2 tahun
• Mu’alimin, lama belajar 4 tahun
• Yakhassus, lama belajar 2 tahun

5. Perserikatan Ulama
Organisasi Islam ini merupakan perwujudan dari lahirnya gerakan-gerakan pembaharuan di Indonesia. Kehadiran perserikatan ini adalah inisiatif KH. Abdul Halim pada tahun 1911.
Perserikatan Ulama secara resmi meluaskan dearah operasi ke seluruh Jawa dan Madura.
Kemudian pada tahun 1932, dalam suatu kongres, Abdul Halim mengusulkan agar didirikan sebuah lembaga pendidikan yang akan melengkapi pelajar-pelajarnya bukan saja dengan berbagai cabang ilmu pengetahuan agama dan pengetahuan umum, tetapi juga dengankelengkapan-kelengkapan berupa pengembangan profesi dan keterampilan seperti pekerjaan tangan, perdagangan dan pertanian, tergantung kepada bakat masing-masing yang bersangkutan.

6.Persatuan Islam (Persis).
a. Sekitar Berdirinya
Persatuan Islam (Persis) didirikan secra resmi pada tanggal 12 september 1923 di Bandung oleh KH. Zam Zam.
b. Usahanya di Bidang Pendidikan
Persis memberikan perhatiannya yang sangat besar di bidang pendidikan. Dalam bidang pendidikan ini Persis mendirikan sebuah madrasah yang pada awalnya dimaksudkan untuk anak-anak anggota Persis. Akan tetapi kemudian madrasah ii diluaskan untuk dapat menerima anak-anak lain.
Selanjutnya pada tahun 1927, sebuah kelas khusus atau yang lebih tepatnya disebut kelompok diskusidiorganisai untuk anak-anak muda yang telah menjalanimasa studinya disekolah-sekolah menengah pemerintahan dan ingin mempelajari Islam secara sungguh-sungguh dan lebih mendalam.
Sementara itu ada kegiatanlain yang sangat penting dalam rangka kegiatan pendidikan Persis , yaitu Lembaga Pendidikan Islam yang merupakan proyek dan atas gagasan Muhammad Natsir, yang terdiri dari beberapa buah sekolah: Taman Kanak-kanak HIS(1930), Sekolah Mulo (1931) dan sekolah Guru (1932).

c.Pesantren Persis
Disamping menyelenggarakan pendidikan Islam berupa madrasah atau sekolah lain, Persis juga mendirikan sebuah Pesantren, Pesantren Persis didirikan di Bandung.
Tujuan pendirian psantren ini ialah untuk mengeluarka mubaligh-mubaligh yang sanggup menyirkan, mengajar, membela dan mempertahankan agama Islam.
Pada mulanya pelajaran yang diberikan selain ilmu-ilmu agama, juga ilmu umum, seperti keguruan dan lain-lain.

7, Al-Washliyah
Al Jami’atul Washliyah didirikan di Medan pada tanggal 30 November 1930 bertepatan tanggal 9 Rajab 1249 H oleh pelajar-pelajar dan para guru Maktab Islamiyah Tapanuli. Maktab Islamiyah Tapanuli ini ialah sebuah madrasah yang didirikan di Medan pada tanggal 19 Mei 1918 oleh masyarakat Tapanuli, dan merupakan madrasah yang tertua di Medan.
Sebagai pengurus yang pertama pada organisasi ini adalah Isma’il Banda sebagai ketua 1, A. Rahman Syihab ketua 2 dan lain-lain. Sebagai penasihatnya adalah Syekh H.M. Yunus.
1. Penyelenggaraan Pendidikan Sebagai Respon Pendidikan Kolonial Belanda
Al-Washliyah adalah sebuah organisasi yang berasaskan Islam, yang dalam fiqih memakai mazhab Syafii serta dalam hal I’tiqot adalah ahlusunah Waljama’ah. Al-washliyah bergerak dalam bidang pendidikan, sosial dan keagamaan.
Usaha-usaha yang dilakukannya antara lain:
 Mengusahakan berlakunya hukum-hukum Islam
 Memperbanyak tabligh, tazkir, dan pengajaran ditengah-tengah umat Islam
 Menerbitkan kitab-kitab, surat-surat kabar, majalah, surat-surat siaran, dan mengadakan taman bacaan
 Membangun perguruan dan mengatur kesempurnaan pelajaran, pendidikan dan kebudayaan
 Menyantuni fakir miskin dan memelihara serta mendidik anak yatim piatu
 Menyampaikan seruan Islam kepada orang-orang yang belum beragama Islam
 Mendirikan, memelihara, dan memperbaiki tempat ibadah
 Memajukan dan menggembirakan penghidupan dengan jalan yang halal
 Dan lain-lain.
Al-Washliyah sengaja menyelenggarakan pendidikannya dengan susunan sebagai berikut:
a. Madrasah Ibtidaiyah 6 tahun;
b. Madrasah Tsanawiyah 3 tahun;
c. Madrasah Qismul ‘Ali 3 tahun;
d. Madrasah Mu’alimin 3 tahun;
e. Mendirikan Pendidikan Guru Agama (PGA) 6 tahun;
f. SD al-Washliyah 6 tahun
g. SMP Al-Washliyah 3 tahun
h. SMA al-Washliyah 3 tahun.

Untuk lembaga pendidikan Sekolah Dasar sampai SMA, materi pelajaran diatur 70:30%: 70% pengetahuan umum dan 30% ilmu Agama.
Pada tahun 1958 al-Washliyah telah mampu mendidikan Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) di Medan dan Jakarta. Di Medan, kemudian berubah menjadi Universitas dengan mempunyai banyak cabang, seperti di Sibolga, Kebon Jahe, Rantau Prapat, Langsa (Aceh) dan lain-lain, bahkan sampai ke Kalimantan (di daerah Brabai, kalimanhtan Selatan dan sekarang namanya berubah menjadi STIT al-Washliyah Barabai.
Al-Wasliyah tergolong mempunyai andil besar dalam menykseskan pendidikan dan da’wah, hal ini akan lebih terlihat lagi setelah Indonesia merdeka.

BAB 5
Lembaga Pendidikan Islam di Indonesia

A. Pengertian
Lembaga pendidikan secara umum dapat diartikan sebagai badan usaha yang bergerak dan bertanggungjawab atas terselenggaranya pendidikan terhadap anak didik. Adapun lembaga pendidikan islam dapat diartikan dengan suatu wadah atau tempat berlangsungnya proses pendidikan islam yang bersamaan dengan proses pembudayaan.

B. Prinsip-Prinsip dan Tanggung Jawab Pendidikan Islam
Prinsip – prinsip pendidikan islam yaitu:
1. Prinsip pembebasan manusia dari ancaman kesesatan yang membawa manusia kepada api neraka (QS. At-Tahrim:6)
2. Prinsip Pembinaan Ummatmenjadi hamba – hamba Allah yang memiliki keselarasan dan keseimbangan hidup bahgia didunia dan di akhirat.(QS. A-Qashas:77)
3. Prinsip Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar serta membebaskan manusia dari belenggu-belenggu kenistaan.
4. Prinsip Pengembangan daya piker,daya nalar,daya rasa sehingga dapat menciptakan anak didik yang kreatif dan dapat memfungsikan daya cipta,rasa dan karsanya.
5. Prinsip pembentuka pribadi manusia yang memancarkan sinar keimanan yang kaya dengan ilmu pengetahuan.

Menurut Sidi Gazalba,yang berkewajiban menyelenggarakan lembaga pendidikan adalah:
1. Rumah Tangga,yaitu pendidikan primer fase bayi dan fase kanak-kanak sampai usia sekolah.Pendidiknya adalah Orang tua,sanak kerabat,family,saudara-saudara,teman sepermainandan kenalan pergaulan.
2. Sekolah,yaitu Pendidikan sekunder yang mendidik anak mulai dari usia masuk sekolah sampai ia keluar dari sekolah tersebut.Pendidiknya adalah Guru yang profesional.
3. Kesatuan Sosial,yaitu Pendidikan tertier yang merupakan pendidikan terakhir tetapi bersifat permanen.Pendidiknya adalah kebudayaan,adat-istiadat,suasana masyarakat setempat.

C. Masjid dan Surau
Secara harfiah masjidd diartikan sebagai tempat duduk atau tempat yang dipergunakan untuk ibadah. Masjid juga berarti “tempat shalat berjama’ah” atau tempat sahalat untuk umum (orang banyak).
Al-Abdi dalam bukunya “Almadlehal” menyatakan bahwa masjid merupakan tempat terbaik untuk melakukan kegiatan pendidikan. Dengan menjadikan lembaga pendidikan dalam masjid akan terlihat hidupnya sunah-sunah islam, menghilangkan bid’ah-bid’ah, mengembangkan hokum-hukum tuhan, serta menghilangnya stratifikasi rasa dan status ekonomi dalam pendidikan. Maka dengan demikian masjid sudah merupakan lembaga kedua setelah keluarga, yang jenjang pendidikannya terdiri dari sekolah menengah dan sekolah tinggi dalam waktu yang sama.
Oleh sebab itu Implikasi masjid sebagai lembaga pendidikan Islam itu diantaranya:
 Untuk mendidik anak agar tetap beribadah kepada Allah
 Menanamkan rasa cinta kepada ilmu pengetahuan dan menanamkan solidaritas sosial, serta menyadarkan hak-hak dan kewajiban-kewajibannya sebagai insane pribadi, sosial dan warga Negara
 Memberikan rasa ketentraman, kekuatan, dan kemakmuran potensi-potensi rohani manusia melalui pendidikan kesabaran, perenungan, optimism, dan mengadakan penelitian.
Secara garis besar fungsi surau dan masjid tersebut dapat dibedakan sebagai tempat ibadah, dan sebagai tempat pendidikan atau kebudayaan, dan tempat menyelanggarakan urusan ummat.
 Masjid dapat lebih efektif bila didalamnya disediakan fasilitas-fasilitas terjadinya proses belajar mengajar. Fasilitas yang diperlukan adalah:
Perpustakaan, yang menyediakan berbagai buku bacaan dengan berbagai disiplin keilmuan;
 Ruang diskusi, yang digunakan untuk berdiskusi sebelum dan sesudah shalat berjamaah. Program inilah yang dikenal dengan istilah “i’tikaf ilmiah”. Langkah-langkah praktis yang ditempuh dalam operasionalisasinya adalah memberikan perencanaan terlebih dahulu dengan menampilkan beberapa pokok persoalan yang akan dibahas. Setelah berkumpul para audiens (makmum), diskusi dapat dimulai pada ruang yang telah tersedia. Kira-kira sepuluh sampai lima belas menit sebelum shalat berjamaah, diskusi dihentikan dan kemudian beralih pada “i’tikaf profetik” (dzikir). Sebaliknya, jika diskusi ini dilakukan seusai shalat berjamaah, i’tikaf profetik didahulukan dan kemudian diganti dengan i’tikaf ilmiah. Agar tak terlalu menjemukan diskusi ini dilakukan dua atau tiga minggu sekali;
 Ruang kuliah, baik digunakan untuk training (tadrib) remaja masjid, atau juga untuk madrasah diniyah Omar Amin Hoesin memberi istilah ruang kuliah tersebut dengan sekolah masjid. Kurikulum yang disampaikan khusus mengenai materi-materi keagamaan untuk membantu pendidikan formal, yang proporsi materi keagamaannya lebih minim dibandingkan dengan proporsi materi umum

D. Pondok Pesantren
1. Asal Usul Pondok Pesantren dan Sejarah Perkembangannya
Pesantren di Indonesia tumbuh dan berkembang sangat pesat, berdasarkan laporan
pemerintah kolonial Belanda, pada abad ke- 15 untuk Jawa terdapat kurang lebih 1853 buah,
dengan jumlah santri tidak kurang 16.500 orang. Dari jumlah tersebut, belum termasuk jumlah
pesantren-pesantren yang berkembang di luar Jawa, terutama Sumatra dan Kalimantan yang sekurang-kurangnya terkenal sangat kuat.
2. Pesantren Sebagai Lembaga Pendidikan Islam
Dalam mekanisme kerjanya, sistem yang ditampilkan pondok pesantren mempunyai keunikan dibandingkan dengan sistem yang diterapkan dalam pendidikan pada umumnya, yaitu;
 Memakai sistem tradisional yang mempunyai kebebasan penuh dibandingkan dengan sekolah modern, sehingga terjadi hubungan dua arah antara santri dan Kiai.
 Kehidupan di pesantren menampakkan semangat demokrasi karena mereka praktis bekerja sama mengatasi problema nonkurikuler mereka.
 Para santri tidak mengidap penyakit simbolis, yaitu perolehan gelar dan ijazah, karena sebagian besar pesantren tidak mengeluarkan ijazah, sedangkan santri dengan ketulusan hatinya untuk masuk pesantren tanpa adanya ijazah tersebut.
 Sistem pondok pesantren mengutamakan kesederhanaan, idealisme, persaudaraan, persamaan, rasa percaya diri dan keberanian diri.
 Alumni pondok pesantren tidak ingin menduduki jabatan pemerintahan, sehingga mereka hampir tidak dapat dikuasai oleh pemerintah.
Sementara itu yang menjadi ciri khas pesantren dan sekaligus menunjukkkan unsur-unsur pokoknya, yang membedakan dengan lemabaga pendidikan lainnya :
 Pondok
Merupakan tempat tinggal kyai bersama para santrinya. Adanya pondok sebagai tempat tinggal bersama antara kyai dan santrinya dan bekerjasama untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, merupakan pembeda dengan lembaga pendidikan yang berlangsung di masjid atau langgar. Pesantren juga menampung santri-santri yang berasal dari daerah yang jauh untuk bermukim. Pada awal perkembangan pondok pesantren tersebut bukanlah semata-mata di maksudkan sebagai tempat tinggal atau asrama para santri, untuk mengikuti dengan baik pelajaran yang diberikan kyai tetapi juga sebagai tempat training dan latihan bagi para santri yang bersangkutan agar mampu hidup mandiri dalam masyarakat. Para santri di bawah bimbingan kyai bekerja untuk memenuhi untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dalam situasi kekeluargaan dan bergotong royong sesama warga pesantren. Tetapi dalam perkembangan berikutnya terutama pada masa sekarang tampaknya lebih menonjol fungsinya sebagai tempat pemondokan atau asrama dan setiap santri dikenakan semacam sewa atau iuran untuk pemeliharaan pondok tersebut.
 Adanya Masjid
Sebagai pusat kegiatan ibadah dan belajar mengajar. Masjid yang merupakan unsur-unsur pokok kedua dari pesantren, di samping berfungsi sebagai tempat melakukan sholat berjamaa’ah setiap waktu sholat, juga berfungsi sebagai tempat belajar mengajar. Biasanya waktu belajar mengajar dalam pesantren berkaitan dengan waktu sholat berjama’ah. Baik sebelum dan sesudahnya. Dalam perkembangnnya sesuai dengan perkembangan jumlah santri dan tingkatan pelajaran, di bangun tempat atau ruangan-ruangan khusus untuk halaqoh. Pada sebagaian pesantren masjid berfungsi sebagai tempat i’tikaf dan melaksanakan latihan-latihan, atau suluk dan zikir maupun amalan lainya dalam kehidupan tarekat dan sufi.

 Santri
Merupakan unsur pokok dari suatu pesantren, biasanya terdiri dari dari dua kelompok, yaitu :
• Santri mukim
Adalah santri yang berasal dari daerah yang jauh dan menetap dalam pondok pesantren.
• Santri Kalong
Yaitu santri-santri yang yang berasal dari daerah-daerah sekitar pesantren dan biasanya mereka tidak menetap dalam pesantren.
 Kyai
Merupakan tokoh sentral dalam pesantren yeng memeberikan pengajaran. Karena itu kyai adalah salah satu unsur yang yang paling dominan dalam kehidupan suatu pesantren. Kemasyhuran perkembangan dan kelangsungan kehidupan suatu pesantren banyak bergantung pada keahlian dan kedalaman ilmu, karismatik dan wibawa, serta ketrampilan kyai yang bersangkutan dalam mngelola pesantren. Dalam kontek ini, pribadi kai sangat menentukan sebab ia adalah tokoh sentral dalam pesantren. Gelar kyai di berikan oleh masyarakat kepada orang yang memiliki ilmu pengetahuan mendalam tentang agama Islam dan memiliki serta memimpin pondok pesantren serta mengajarkan kitab-kitab klasik kepada para santri, dalam perkembangannya kadang-kadang sebutan kyai kini juga di berikan kepda mereka yang mempunyai keahlian yang mendalam di bidang agama Islam, dan tokoh masyarakat, walaupun tidak memiliki atau memimpin serta memberikan pelajaran di pesantren umumnya tokoh-tokoh tersebut adalah alumni pesantren.
 Kitab-kitab Islam Klasik
Unsur pokok lain yang cukup membedakan pesantren dengan lembaga pendidikan adalah bahwa pada pesantren di ajarkan kitab-kitab klasik yang di karang para ulama terdahulu, mengenai berbagai ilmu pengertahuan agma Islam dan Bahasa Arab. Pelajaran di mulai dengan kitab-kitb yang sederhana kemudian dilanjutkan dengan kitab-kitab tentang berbagai ilmu yang mendalam. Dan tingkatan suatu pesantren dan pengajarannya, biasanya diketahui dari jenis kitab-kitab yang diajarkan.
Adapun dalam realitasnya,
penyelenggaraan sistem pendidikan dan pengajaran di pondok pesantren dapat digolongkan
menjadi tiga bentuk, yaitu:
1) Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan dan pengajaran agama Islam, dan cara
pengajaran dengan cara non klasikal. Dimana kyai mengajar santri berdasarkan kitab
berbahasa Arab yang ditulis ulama besar abad pertengahan, dan para santri bertempat
tinggal di pondok dalam pesantren.
2) Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan dan pengajaran agama Islam yang pada
dasarnya sama dengan pondok pesantren tersebut di atas, tetapi para santri tidak
disediakan pondokan di komplek pesantren, namun ada juga santrinya yang disebut
santri kalong.
3) Dewasa ini pondok pesantren merupakan lembaga gabungan yang di dalamnya
terkandung pendidikan formal dan nonformal.

E. Madrasah
Madrasah merupakan isim makan dari ‘darasa’ yang berarti ‘tempat duduk untuk
belajar’. Madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam mulai didirikan dan berkembang sekitar
abad ke- 5 H atau 10 – 11 M. Ketika penduduk Naisabur mendirikan lembaga pendidikan Islam
model madrasah tersebut pertama kalinya, akan tetapi tenarnya justru melalui menteri kerajaan
baru Saljuk yang bernama Nizham al- Mulk yang mendirikan Nidhomiyah tahun 1065.
Ketika madrasah dari Timur Tengah, kemudian diadopsi oleh umat Islam Indonesia
perkembangan berikutnya madrasah merupakan lembaga pendidikan formal seperti kuttab dan
masjid. Pada awal perkembangannya, madrasah tergolong lembaga pendidikan setingkat college
(jika dibandingkan dengan pendidikan Islam saat ini). Namun selanjutnya, madrasah tidak lagi
berkonotasi sebagai akademi, tetapi sekolah tingkat dasar sampai menengah.
Pertama madrasah didirikan di Indonesia adalah Adabiyah di Padang oleh syekh Abdullah Ahmad pada tahun 1909. Tetapi ada juga yang menyebutkan juga bahwa Jami’at Khoir sebagai madrasah pertama di Indonesia.
Sistem pendidikan dan pengajaran di madrasah adalah perpaduan antara sistem pondok
pesantren dengan sistem yang berlaku di sekolah-sekolah modern. Proses perpaduan tersebut
berlangsung secara berangsur-angsur mulai dari mengikuti sistem klasikal, sistem pengajian
kitab-kitab, digantikan dengan bidang-bidang pelajaran tertentu. Walaupun masih menggunakan
kitab yang lama dan semakin berkembangnya zaman, lahirlah madrasah-madrasah yang
mengikuti sistem kejenjangan dan bentuk sekolah modern seperti madrasah ibtidaiyah (MI),
sama dengan sekolah dasar (SD), madrasah tsanawiyah (MTs) sama dengan sekolah menengah
pertama (SMP) dan madrasah aliyah (MA) sama dengan sekoalah menengah atas (SMA).
Departemen dalam rangka melaksanakan program pengembangan madrasah,
sebagaipelaksanaan program wajar, memperkenalkan madrasah wajib belajar (MWB) tahun
1958. MWB dimaksudkan sebagai langkah awal untuk memberikan bantuan pembinaan
madrasah dalam rangka penyeragaman materi kurikulum dan sistem penyelenggaraannya
dengan madrasah ibtidaiyah yang diselenggarakan oleh masyarakat.

F. Perguruan tinggi agama Islam
Umat Islam merupakan mayoritas dari penduduk Indonesia, selalu mencari cara untuk
membangun sistem pendidikan Islam yang lengkap, mulai dari pesantren yang sederhana sampai
perguruan tinggi.
Perkembangan berikutnya, Departemen Agama mendirikan Sekolah Guru Agama Islam
(SGAI) untuk tingkatan guru tingkat dasar dan Sekolah Guru dan Hakim Agama Islam
(SGHAI). Pada tahun 1940, di Padang, berdiri persatuan guru-guru agama Islam (PGAI).
Namun perguruan ini hanya mampu berjalan 2 tahun saja. Karena Jepang datang ke Padang dan
menghendakinya untuk ditutup.
Pada tahun 1945 dengan bantuan pemerintah pendudukan Jepang, saat itu didirikan
Sekolah Tinggi Islam di Jakarta. Tujuannya untuk mencetak para alim ulama yang intelek, yaitu
mereka yang mempelajari ilmu pengetahuan agama Islam secara luas dan mendalam serta
mempunyai pengetahuan umum yang diperlukan dalam masyarakat. Studi yang ditempuh
selama 2 tahun sampai mendapatkan gelar sarjana muda dan 2 tahun lagi untuk mendapatkan
gelar sarjana penuh.
Pada Desember 1945, pada saat Jakarta diduduki oleh tentara sekutu, perguruan tinggi ini
ditutup sementara dan pada tahun 1946 dibuka kembali di Jogjakarta. Pada tahun 1948 STI
diubah menjadi Universitas Islam Indonesia dengan beberapa fakultas, yaitu fakultas Agama, hukum, ekonomi dan pendidikan.

G. Majelis Ta’lim

• Pengertian dan Latar Belakang Historis Berdirinya
Majelis ta’lim adalah lembaga pendidikan nonformal Islam yang senantiasa menanamkan akhlak yang luhur dan mulia, menimgkatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan ketrampilan jama’ahnya, serta memberantas kebodohan umat Islam agar dapat memperoleh kehidupan yang bahagia dan sejahtera serta diridhoi ALLAH SWT.
perbedaan antara majelis ta’lim dengan yang lainnya, sebagai berikut:
a. Majelis ta’lim adalah lembaga pendidikan nonformal Islam.
b. Waktu belajarnya berkala tapi teratur, tidak setiap hari sebagaimana halnya sekolah atau madrasah.
c. Pengikut atau pesertanya disebut jamaah (orang banyak), bukan pelajar atau santri. Hal ini didasarkan kepada kehadiran di majelis ta’lim bukan merupakan kewajiban murid menghadiri sekolah atau madrasah.
d. Tujuannya yaitu memasyarakatkan ajaran Islam.
Ditinjau dari segi historisnya, majelis ta’lim merupakan lembaga pendidikan tertua dalam Islam sebab sudah dilaksanakan sejak zaman Rasulullah SAW.

• Fungsi dan Peranan Majelis Ta’lim dalam Pendidikan Islam
Usaha pembinaan umat atau masyarakat dalam bidang agama biasanya menggunakan beberapa bentuk pendekatan, yakni: a) lewat propaganda; yang lebih menitikberatkan kepada pembentukan publik opini, agar mereka mau bersikap dan berbuat sesuai dengan maksud propaganda. Sifat propaganda adalah masal, caranya dapat melalui rapat umum, siaran radio, TV, Film, Drama, Spanduk dan sebagainya; b) melalui indoktrinasi yaitu menanamkan ajaran dengan konsepsi yang telah disusun secara tegas dan bulat oleh pihak pengajar untuk disampaikan kepada masyarakat, melalui kuliah, ceramah, kursus-kursus, training centre dan sebagainya; c) meleui jalur pendidikan, dengan menitikberatkan kepada pembangkitan dan matang dari karsa sehingga cara pendidikan ini lebih mendalam dan matang dari pada propaganda dan indoktrinasi
Sebagai lembaga pendidikan nonformal, majelis ta’lim berfungsi sebagai berikut:
a. Membina dan megembangkan ajaran Islam dalam rangka membentuk masyarakat yang bertaqwa kepada Allah SWT.
b. Sebagai taman rekreasi rohaniyah, karena penyelenggaraannya bersifat sentral.
c. Sebagai ajang berlangsungnya silaturrahmi yang dapat menghidupsuburkan dakwah dan Ukhuwah Islamiyah.
d. Sebagai sarana dialog berkesinambungan antara ulama dan umara dengan umat.
e. Sebagai media penyampaian gagasan yang bermanfaat bagi pembangunan umat dan bangsa pada umumnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s